Hujan lebat dan angin kencang sering melanda NTT sehingga banyak infrastruktur rusak, perumahan hancur, longsor, banjir hingga gangguan pelayaran.
![]() |
| Ilustrasi badai siklon tropis. |
SIANAKAREN.COM -- Posisi geografis yang berdekatan dengan Australia membuat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selalu terdampak siklus cuaca ekstrem yang melanda benua selatan itu.
Hujan lebat dan angin kencang sering melanda provinsi kepulauan ini sehingga banyak infrastruktur rusak, perumahan hancur, longsor, banjir hingga gangguan pelayaran dan penerbangan.
Minggu ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis bahwa akan terjadi potensi cuaca ekstrem yang melanda NTT selama tiga hari ke depan, terhitung sejak 22-24 Maret 2026.
Baca juga: Terungkap Modus Eks Pejabat BNI Tilap Rp28 M Tabungan Umat Paroki Aek Nabara
Namun tentu tidak terbatas pada tanggal tersebut. Intensitas badai siklon yang berhembus dari wilayah utara Australia akan selalu membayangi daerah ini.
Masyarakat di sejumlah kabupaten dan kota diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hujan intensitas sedang hingga sangat lebat yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenot’ek, mengungkapkan bahwa dinamika atmosfer saat ini menunjukkan aktivitas yang cukup signifikan.
“Peningkatan curah hujan ini dipengaruhi oleh menguatnya Monsun Asia, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), serta gelombang atmosfer yang aktif di wilayah NTT,” ujarnya pada Minggu (22/3).
Baca juga: Gadis Asal Adonara NTT Meninggal Akibat Gantung Diri di Kamar Kos di Jakarta
Selain curah hujan tinggi, BMKG juga menyoroti potensi angin kencang yang berpeluang menyapu wilayah Sabu Raijua, Rote Ndao, Kabupaten Kupang, Malaka, dan TTS.
Ancaman lain yang tidak kalah serius adalah banjir pesisir atau rob yang dipicu oleh fenomena astronomi fase Bulan Baru dan perigee (jarak terdekat bulan ke bumi).
Sti memperingatkan bahwa kenaikan permukaan air laut ini dapat mengganggu aktivitas di pelabuhan, permukiman pesisir, hingga sektor perikanan.
BMKG menyebut Siklon Tropis Narelle yang terjadi di bagian utara Australia memperanguhi cuaca yang terjadi di sejumlah wilayah di NTT.
Baca juga: Sekolah di TTS Ambruk, 1 Siswa Tewas 2 Luka-luka
BMKG mengungkap laporan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, terkait adanya Siklon Tropis Narelle yang terpantau di utara Australia, Sabtu, 21 Maret 2026 dan bisa menimbulkan dampak pada sejumlah wilayah di Indonesia.
Siklon Tropis Narelle adalah salah satu badai tropis di sekitar Australia yang cukup kuat, namun relatif tidak berbahaya bagi daratan karena bergerak menjauh ke laut lepas.
Badai siklon ini terbentuk di wilayah Samudra Hindia bagian selatan, khususnya di sekitar perairan utara hingga barat laut Australia.
Baca juga: 4 Anggota BAIS TNI Ditahan terkait Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
Nama “Narelle” diberikan sesuai daftar penamaan siklon di wilayah Australia.
BMKG meminta warga untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca secara berkala.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, memantau informasi cuaca terkini dari BMKG, serta menghindari aktivitas di daerah rawan bencana saat kondisi cuaca ekstrem,” pungkas Sti.*


COMMENTS