Keluarga almarhumah Dokter Icha menilai kualitas manajemen RS Leona sangat buruk dan tidak bertanggung jawab atas insiden yang menimpan dokter Icha.
![]() |
| Fabianus Banase, paman dokter Icha/Sianakaren |
SIANAKAREN.COM — Keluarga almarhumah Dokter Elisa Princilia Utami Pakaenoni alias dr. Icha menilai kualitas manajemen Rumah Sakit (RS) Leona sangat buruk dan tidak bertanggung jawab atas penanganan kasus yang menimpa dokter PTT tersebut pasca insiden di rumah sakit itu pada 13 Juni lalu.
Fabianus Banase, paman almarhumah, menyatakan pihak manajemen RS Leona tidak pernah menunjukkan tanggung jawab sejak insiden terjadi.
Menurutnya, rumah sakit swasta yang memiliki empat cabang di Pulau Timor itu cenderung “melepas tangan” dan mendiamkan kejadian yang menimpa korban.
“Rumah Sakit Leona ini menurut versi investigasi kami, manajemennya bobrok sekali,” katanya dalam acara Hotroom Metro TV yang dipanduk Hotman Paris, Rabu (8/7).
Ia menegaskan manajemen rumah sakit seharusnya segera melapor dan berkoordinasi dengan pihak berwenang, seperti Dinas Kesehatan atau Bupati, namun tidak melakukannya sebelum viral di media sosial.
“Pas kejadian itu, seharusnya pihak Rumah Sakit Leona itu langsung melaporkan kepada pemerintah, dalam hal ini Kepala Dinas, atau langsung ke Bupati. Tapi pada saat kejadian itu mereka mendiamkan saja," tandasnya.
Fabianus menambahkan kritik terhadap fasilitas dan struktur internal RS Leona. Menurut dia, rumah sakit tersebut harusnya memiliki psiakiater dan konsultan hukum yang bisa mendampingi Dokter Icha untuk melaporkan kejadian atau pemulihan trauma.
“Perusahaan sebesar Leona masa nggak punya legal corporate, masa nggak punya psikiater, masa nggak punya ruang isolasi,” ujarnya.
Keluarga, menurut Fabianus, justru yang mengambil inisiatif mendatangi Dinas Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan DPRD TTU untuk melaporkan kasus tersebut. Baru setelah isu menjadi viral, kata dia, manajemen RS Leona mulai bergerak.
RS Leona diketahui memiliki empat cabang, yakni di Kupang, Noelbaki, Kefamenanu, dan Atambua. Fabianus menilai keempat cabang itu tidak terkoordinasi dengan baik.
Ia juga menyinggung sikap manajemen saat pemakaman almarhumah, yang menurutnya hadir tanpa menunjukkan empati atau tanggung jawab yang memadai.
“Saat pemakaman Rumah Sakit Leona ini sepertinya tidak ada beban. Cuman datang ngomong, lalu nggak ada apa-apa,” katanya, seraya menekankan bahwa dr. Icha adalah tenaga PTT yang merupakan aset pemerintah daerah, bukan aset rumah sakit.
Lebih jauh, Fabianus melempar dugaan praktik buruk yang lebih sistemik di RS Leona.
“Jadi dugaan saya, ada perbudakan di Leona itu benar karena Leona ini kasusnya bukan pertama kali, banyak terjadi di Leona ini,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen RS Leona belum memberikan komentar resmi terkait tudingan keluarga almarhumah.
Keluarga meminta agar kasus ini ditindaklanjuti secara serius oleh otoritas terkait untuk memastikan perlindungan tenaga kesehatan dan akuntabilitas institusi layanan kesehatan.


COMMENTS