--> Multivalensi Tubuh Populistik Prabowo | Si Anak Aren

Multivalensi Tubuh Populistik Prabowo

Prabowo Subianto, sebagai presiden saat ini yang terpilih pada Pemilu 2024 mewakili fenomena multivalensi simbolik yang kompleks.

Prabowo goyang "gemoy".

Prabowo Subianto, sebagai presiden saat ini yang terpilih pada Pemilu 2024, mewakili fenomena politik kompleks di Indonesia.

Tubuh politiknya yang "multivalen" mencerminkan lapisan kepribadian, watak, kekayaan, dan narasi populis yang membawanya ke panggung kekuasaan.

Namun serentak ia gagal memahami kosmologi politik Indonesia yang berakar pada Pancasila, gotong royong, dan dinamika kekuasaan kolektif.-dialogis.

Fenomena "Prabowo" ini bukan lagi sekadar cerita tentang persistensi seorang aktor politik, melainkan sebuah studi kasus tentang bagaimana "tubuh" seorang pemimpin bertransformasi menjadi wadah berbagai makna yang saling bertentangan—sebuah multivalensi. 

Dari sosok militeristik yang kaku hingga menjadi personifikasi "gemoy" yang jenaka, Prabowo telah melakukan eksperimen semiotika politik yang luar biasa.

Namun, di balik keberhasilan elektoralnya, terdapat pertanyaan fundamental: Apakah transformasi ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang kosmologi politik Indonesia, ataukah sekadar taktik permukaan yang menyembunyikan kekosongan imajinasi politik dalam mengelola kekuasaan?

Dari Patriostik ke Fragilitas Ego

Kepribadian Prabowo terbentuk dari latar belakang militer dan keluarga elite. 

Lahir dari ayah ekonom terkemuka Sumitro Djojohadikusumo, ia tumbuh dengan disiplin prajurit Kopassus, menampilkan citra tegas, karismatik, dan nasionalis yang kuat. 

Sisi emosionalnya terlihat dalam kampanye "gemoy", yang melunakkan imaji kerasnya, menarik simpati generasi muda melalui tarian dan ekspresi lucu di media sosial. Strategi ini berangkat dari kesadaran akan kelelahan publik terhadap polarisasi, sehingga ia melakukan "rebranding" total.

Tubuhnya yang dulu kaku menjadi luwes dan jenaka. Narasi "gemoy" adalah upaya mendepolitisasi masa lalu dan menggantinya dengan estetika yang menghibur, terutama anak muda.

Namun, ini bersifat performatif; kepribadian aslinya cenderung otoriter, seperti terlihat dari masa lalu kontroversialnya pada 1998 terkait penculikan aktivis, yang menciptakan fragmentasi makna.

Secara psikologis, ia menampilkan watak yang eksplosif namun rapuh.

Prabowo sering menampilkan narasi anti-elite meski berasal dari keluarga konglomerat, menciptakan ketegangan internal antara ambisi pribadi dan citra people-oriented

Analis psikologi politik melihat ini sebagai "multivalensi simbolik" (bdk. Geva, 2018).

Misalnya, di satu sisi visioner membangun ekonomi, sisi lain kurang fleksibel dalam menghadapi kritik, sering menyalahkan oposisi daripada introspeksi.

Bagi Prabowo, dunia adalah arena kompetisi zero-sum game. Bahasa tubuhnya seringkali menunjukkan dominasi, namun di saat yang sama, ia memiliki kebutuhan yang besar akan validasi. 

Ini terlihat dari bagaimana ia sangat sensitif terhadap kritik yang dianggap menyerang kehormatannya (honor code).

Di sisi lain, ia juga adalah kutu buku dengan wawasan geopolitik luas. Sayangnya, ia sering terjebak dalam emosionalisme yang meledak-ledak. 

Inilah "multivalensi" lainnya: Prabowo adalah intelektual yang terkungkung dalam temperamen prajurit.

Watak politik Prabowo pun berevolusi dari jenderal pemberontak menjadi politisi oportunis. 

Pada 2004-2019, ia kalah Pilpres tiga kali dengan narasi anti-korupsi Jokowi, tapi 2024 menang berkat koalisi besar dan dukungan Gibran Rakabuming, anak sulung Jokowi, mantan kompetitornya yang kemudian memilih bersekutu melalui pintu MK.

Watak Prabowo di sini dibaca sangat pragmatis: dari anti-establishment menjadi koalisi dengan semua partai besar, menunjukkan adaptasi tapi juga opportunisme.

Secara strategis, ia mahir memanfaatkan isu ekonomi seperti harga sembako dan lapangan kerja, menargetkan kelas bawah. 

Namun, watak otoriternya muncul pasca-kekuasaan, seperti respons keras terhadap protes mahasiswa 2025 soal tunjangan DPR, di mana ia gagal membedakan aspirasi rakyat dari "provokasi". 

Ia juga gagal memahami antara kritik dan propaganda, misalnya dalam isu kelambanan pemerintah menangani bencana besar di Sumatera. 

Ini menggambarkan watak politik Prabowo yang kuat dalam mobilisasi massa, namun lemah dalam dialog yang demokratis.

Keanggotaannya dalam elit ekonomi-politik membuatnya tidak mungkin menjadi revolusioner sejati. Watak politiknya adalah mempertahankan status quo sambil berpura-pura ingin membongkarnya. 

Ia menggunakan partai (Gerindra) bukan sebagai instrumen pendidikan politik, melainkan sebagai perpanjangan tangan personalitasnya. Dalam setiap langkah politiknya, "kehendak untuk berkuasa" (will to power) selalu lebih kuat daripada "ideologi untuk melayani".

Paradoks Narasi Populisme

Kekayaan Prabowo mencapai miliaran dolar dari bisnis tambang, perkebunan, dan warisan keluarga. Laporan LHKPN 2025 menunjukkan aset Rp2 triliun.

Kekayaan ini menjadi pedang bermata dua: simbol kestabilan bagi pemilih yang haus kemakmuran, tapi tuduhan hipokris karena kampanye populis anti-elite.

Salah satu titik paling kontradiktif dalam tubuh populistik Prabowo adalah latar belakang kekayaannya ini. Bagaimana seorang miliarder dengan aset ribuan hektar lahan dan puluhan perusahaan bisa mengklaim sebagai pembela rakyat kecil? 

Jokowi sendiri pernah mengkritiknya dalam debat di Pilpres 2019 terkait kepemilikan lahan perkebunan seluas ratusan ribu hektar di Kalimantan dan Aceh.

Prabowo memang menggunakan kekayaan untuk filantropi, seperti bantuan petani saat kampanye, bantuan pupuk, sembako dan lainnya, yang dengan aktivitas ini memperkuat imaji paternalistik-nya. 

Pasca-menang, kebijakan seperti food estate dikritik boros bahkan gagal sejak era Jokowi ketika ditanganinya serta gagal optimalisasi sumber daya alam untuk rakyat kecil, alih-alih selalu mengumbar kekayaan yang tidak mensejahterakan rakyat. Kekayaan yang dimilikinya kemudian justru menjauhkannya dari kosmologi egaliter Indonesia, di mana pemimpin diharapkan sederhana.​

Prabowo pun sering sekali menggunakan diksi "kekayaan nasional yang bocor ke luar negeri." 

Ini adalah strategi untuk mengalihkan perhatian dari akumulasi kekayaan pribadinya menuju "musuh abstrak" di luar sana.

Kita bisa meraba, bahwa dukungan massa yang ia raih seringkali tidak berbasis pada kesadaran kelas, melainkan pada pesona kekuatan finansial dan logistik yang mampu menggerakkan mesin politik raksasa.

Belakangan ini, narasi populisme Prabowo menjadi senjata utama: "rakyat vs elite yang sinis". 

Setelah retorika kampanye 2024 menyoal anti-kemapanan, nativisme (Indonesia maju), dan otoritarianisme lunak via "Prabowo-Gibran", kini ia melayangkan kritik terhadap elit yang selalu sinis dan mengejek penyelenggaraan pemerintahannya.

Populisme seperti ini diskursif, bukan substansial: kritik elite tapi berteman dengan mereka pasca-menang. Mirip Thaksin di Tailan, ia gagal turun langsung seperti janji, lebih fokus koalisi politik. Narasi ini sukses raup kekuasaan, tapi rapuh karena tak berakar pada ideologi.

Sekadar kilas-balik, Pilpres 2024 dimenangkan Prabowo dengan 58% suara, didukung koalisi 80% DPR. Faktor kunci: dukungan Jokowi via Gibran, kampanye digital, dan isu ekonomi pasca-pandemi.

Namun, ini klimaks sementara; dukungan awal tinggi tapi cepat terkikis oleh kebijakan kontroversial.

Setelah duduk di puncak kekuasaan, multivalensi tubuhnya mulai menampakkan retakan. Ia mahir dalam akrobat elektoral, tetapi tampak gagap dalam orkestrasi birokratik. Misalnya, menteri-nya berlagak politisi mengusulkan skema Pilkada via DPRD yang kemudian didukungnya.

Alih-alih membawa perubahan, ia cenderung mengakomodasi kepentingan oligarki demi stabilitas jangka pendek. Ini membuktikan bahwa janji populismenya hanyalah pintu masuk, bukan tujuan.

Setelah "gemoy" berhasil membawanya menang, Prabowo kehilangan narasi besar untuk menggerakkan bangsa. Tanpa imajinasi yang melampaui jargon nasionalisme sempit, pemerintahannya berisiko terjebak dalam rutinitas administratif yang hambar tanpa perubahan nyata.

Gagal Pahami Kosmologi Indonesia

Kosmologi politik Indonesia berbasis Pancasila: musyawarah, keadilan sosial, persatuan. 

Politik Indonesia bukan sekadar soal memenangkan suara elektoral, melainkan tentang mengelola "rasa" dan keseimbangan kosmis.

Kosmologi Indonesia menuntut pemimpin fasilitator, bukan otoriter. 

Beberapa waktu lalu ia mulai sadar ternyata masyarakat sudah menangkap model kekuasaannya tersebut sehingga berpikir untuk introspeksi.

Ia kerap mengeritik elite tidak paham UUD, tapi pemerintahannya top-down dan sentralistik, abaikan aspirasi akar rumput. Sistem gatekeeping informasi berlaku melalui satu pintu.

Dalam ide pembangunan, Prabowo terkesan masih membayangkan model pembangunan ekstraktivisme seperti rencana baru-baru ini ingin menggunduli hutan di Papua untuk perkebunan sawit, tebu, dan lainnya. Tanpa disadari, kosmologi alam Indonesia mulai "mengamuk" dengan cara seperti itu.

Kebijakan seperti pembangunan IKN dan food estate gagal karena tak pahami kekuatan anggaran dan keragaman potensi lokal lalu picu konflik horizontal. 

Tak hanya itu. Beralibi memberikan gizi kepada anak-anak Indonesia, kebijakan MBG justru menggerus anggaran pendidikan yang semestinya adalah hak dasar setiap anak Indonesia.​

Prabowo adalah pengingat bahwa dalam politik modern, citra bisa mengalahkan substansi. 

Tubuhnya yang multivalen telah berhasil menampung harapan dari berbagai kelompok—dari konservatif agama hingga anak muda yang apolitis.

Namun, kegagalannya memahami kosmologi politik Indonesia yang menuntut kedalaman spiritualitas kepemimpinan dan imajinasi masa depan yang inklusif membuat kekuasaannya terasa hampa. Belum lagi, tidak banyak program yang berhasil dijalankan selain MBG.

Tanpa reorientasi filosofis yang mendalam, Prabowo mungkin akan tercatat dalam sejarah hanya sebagai pemenang pemilu yang handal meski harus dibantu Jokowi.

Setelah fondasi pembangunan diletakkan Jokowi, ia gagal melanjutkan visi dan komitmen yang sama untuk memberi harapan baru bagi kesejahteraan rakyat.

Multivalensi Prabowo sukses secara elektoral, tapi gagal governansi karena abaikan kosmologi. Indonesia butuh pemimpin dengan imajinasi dialogis.*

Penulis: Daniel Deha, aktivis komunikasi dan media.

COMMENTS

Entri yang Diunggulkan

Multivalensi Tubuh Populistik Prabowo

Prabowo goyang "gemoy". Prabowo Subianto, sebagai presiden saat ini yang terpilih pada Pemilu 2024, mewakili fenomena politik komp...

Nama

4 Wanita Pesta Miras,1,Ade Chaerunisa,1,Adonara,1,Advetorial,1,Ahmad Sahroni,1,Aktor Politik,7,Alex Longginus,2,Andreas Hugo Pareira,3,Anggota DPRD TTU,1,Ansar Rera,1,Ansy Jane,1,Ansy Lema,28,Ansy Lema for NTT,3,Apel Hari Pancasila Ende,1,Bandara Ende,1,Bandara Maumere,1,Bank NTT,1,Bapa Sindi,1,Bapa Suci,1,Bayi Menangis,1,Bela Negara,1,Bentrok Antar Gereja,1,Berita Flores,1,Bertrand Peto,1,Bertrand Pulang Kampung,1,Beta Cinta NTT,4,Betrand Peto,1,Bupati Sikka,1,Cafe Alung,1,Calon Gubernur NTT,6,Calon Gubernur PDIP,1,Car Free Night,1,Carlo Ancelotti,1,Catar Akpol Polda NTT,1,Dana Pensiun,1,Danau Kelimutu,1,Danau Tiga Warna,1,Degradasi Pancasila,1,Desa Fatunisuan,1,Doktor Filsafat dari Nagekeo,1,DPD Hanura NTT,1,DPO Kasu Vina,1,DPRD Nagekeo,2,Dr. Sylvester Kanisius Laku,1,El Asamau,1,Elektabilitas Ansy Lema,1,Elon Musk,1,Ende,3,Erupsi Gunung Lewotobi,2,Euro 2024,1,Film Vina,1,Flores,1,Flores NTT,1,Flores Timur,4,GABK,1,Gen Z,1,GPIB,1,Gubenur NTT,1,Gubernur NTT 2024,1,Gugat Cerai,1,Gunung Kelimutu,1,Gunung Lewotobi,2,Guru Remas Payudara,1,Gusti Brewon,1,Hari Lahir Pancasila,1,Hasil Pertandingan Spanyol vs Kroasia,1,Hendrik Fonataba,1,Hukrim,24,Hukum-Kriminal,11,Humaniora,176,Ikatan Dosen Katolik,1,IKDKI,1,Influencer NTT,1,Insight,15,Jadwal Kunjungan Paus Fransiskus,1,Jane Natalia,1,Jual Beli Tanah,1,Kadis Koperasi,1,Kaka Ansy,3,Kakek Sabono,1,Kasus Kriminal di NTT,1,Kata-Kata Elon Musk,1,Kata-Kata Inspiratif,2,Kejati NTT,2,Kekerasan Seksual di NTT,1,Keluarga Onsu,1,Kepsek di Rote Ndao,1,Kepsek di TTU,1,Keuskupan Labuan Bajo,1,Keuskupan Maumere,1,KKB,1,Komodo,1,Komuni Pertama,1,Kongres PMKRI,1,Kontroversi PMKRI,1,Korban Longsor,1,Kota Kupang,1,Kunjungan Paus ke Indonesia,1,Labuan Bajo,1,Ledakan Gas,1,Lemondial Business School,1,Liga Champions,1,Longsor di Ende,1,Longsor di Flores,1,Longsor di Nagekeo,1,Mafia Tanah,1,Mahasiswa Nagekeo,1,Malaysia,1,Mama Sindi,1,Maumere Viral,1,Max Regus,1,Media di NTT,1,Megawati,1,Megawati ke Ende,1,Melki Laka Lena,1,Mesum Dalam Mobil,1,Mgr Ewald Sedu,1,Milenial Sikka,1,MK,1,Model Bali,1,Nagekeo,1,Nasional,45,Nelayan NTT,1,Nenek Tenggelam,1,Nona Ambon,1,NTT,1,Pamulang,1,Panti Asuhan Naungan Kasih,1,Papua,1,Pariwisata,6,Paroki Nangahure,1,Pastor Paroki Kisol,1,Pater Budi Kleden SVD,1,Paulus Budi Kleden,2,Paus Fransiskus,3,Paus Fransiskus Tiba di Indonesia,1,Pegi alias Perong,2,Pegi Setiawan,2,Pekerja NTT di Malaysia,1,Pelaku Penikaman,1,Pemain Naturalisasi,1,Pemerkosaan di NTT,1,Pemerkosaan Guru,1,Penggerebekan,1,Pensiunan Bank NTT,1,perempuan dan anak ntt,1,Perempuan NTT,1,Pertanian NTT,1,Piala Liga Champios,1,Pilgub NTT,23,Pilkada NTT,1,Pj Bupati Nagekeo,2,PMI NTT,1,PMKRI,1,PMKRI Papua,1,Polda NTT,1,Politik,30,Polres Sikka,1,Polresta Kupang Kota,1,Pos Kupang,1,Profil Ansy Lema,1,Putra Nagekeo,1,Putusan MK Terbaru,1,Raimudus Nggajo,2,Raja UCL,1,Rasis NTT,1,Refafi Gah,1,Rekonsiliasi Kasus Pamulang,1,Relawan Bara Juang,1,Remi Konradus,1,Rista,1,Rista Korban Ledakan Gas,1,Romo Gusti,1,Romo Max Regus,1,Rote Ndao,1,Ruben Onsu,2,Sabono dan Nona Ambon,1,Safari Politik Ansy Lema,1,Sarwendah,2,Seleksi Akpol 2024,1,Seminari BSB Maumere,1,Sengketa Lahan,1,Shayne Pattyanama,1,Sikka,1,Sis Jane,1,Solar Panel Listrik,1,Spanyol vs Kroasia,1,Status Gunung Kelimutu,1,STF Driyarkara,1,Sumba,1,Sumba Tengah,1,Survei Ansy Lema,1,Survei Charta Politika,1,Survei Indikator Politik,1,Susana Florika Marianti Kandaimau,1,Suster Inosensi,1,Tanah Longsor,1,Tenaga Kerja NTT,1,Tersangka EP,1,Timor Express,1,TPNPM-OPM,1,TTU,2,Universalia,3,Untar,1,Uskup Agung Ende,3,Uskup Baru,3,Uskup Labuan Bajo,2,Uskup Maumere,1,Uskup Max Regus,1,Veronika Lake,1,Video Panas,1,Vina Cirebon,2,Viral NTT,1,Wanita Open BO,1,Yohanis Fransiskus Lema,10,
ltr
item
Si Anak Aren: Multivalensi Tubuh Populistik Prabowo
Multivalensi Tubuh Populistik Prabowo
Prabowo Subianto, sebagai presiden saat ini yang terpilih pada Pemilu 2024 mewakili fenomena multivalensi simbolik yang kompleks.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1ObJImGjeIx9euEJ3coCrG1yeVvDtVTAzkQa9VZT7NwEwMCDomF489PtkhiT-JTgHC0-EvHEV4YEykjA9ialGJ_2I_Igf_Gvu1CuCYnrF7vAxTjC02wiPHIdQJp3LYql1hzq-r9qWDBbAo0YLViEwyn5mZFPq3K9qzZxX_ynseQZCQ_S7-D9dTaiidHo/w630-h356/Multivalensi%20Tubuh%20Populistik%20Prabowo.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1ObJImGjeIx9euEJ3coCrG1yeVvDtVTAzkQa9VZT7NwEwMCDomF489PtkhiT-JTgHC0-EvHEV4YEykjA9ialGJ_2I_Igf_Gvu1CuCYnrF7vAxTjC02wiPHIdQJp3LYql1hzq-r9qWDBbAo0YLViEwyn5mZFPq3K9qzZxX_ynseQZCQ_S7-D9dTaiidHo/s72-w630-c-h356/Multivalensi%20Tubuh%20Populistik%20Prabowo.jpg
Si Anak Aren
https://www.sianakaren.com/2026/01/multivalensi-tubuh-populistik-prabowo.html
https://www.sianakaren.com/
https://www.sianakaren.com/
https://www.sianakaren.com/2026/01/multivalensi-tubuh-populistik-prabowo.html
true
135189290626829409
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy