Terdapat perbedaan versi antara Kodam IX/Udayana dan Polda NTT terkait insiden penikaman anggota Brimob oleh TNI di Labuan Bajo minggu lalu.
![]() |
| Ilustrasi penganiayaan Brimob oleh TNI di Labuan Bajo. |
Terdapat perbedaan versi antara Kodam IX/Udayana dan Polda NTT terkait insiden penikaman anggota Brimob yang diduga dilakukan oleh prajurit TNI AD kepada 5 anggota Brimob di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Kamis (11/6) lalu.
Kasus tersebut mengakibatkan tiga anggota Brimob mengalami luka tusuk dan dua lainnya lecet. Mereka telah menjalani perawatan di RS Siloam. Adapun para korban berinisial Bripda RME, Bripda FIA, Bharada BBK, Bripda RDJ, dan Bharada GNL.
Versi TNI
Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution menjelaskan, peristiwa bermula saat ketiga anggota TNI AD berinisial Pratu IB, Pratu IW, dan Pratu FR menghadiri acara syukuran pelantikan anggota Brimob Bripda JG pada Rabu (10/6/2026).
Ketiga anggota TNI tersebut pun datang sebagai tamu undangan dan diterima dengan baik oleh tuan rumah.
Kemudian, dalam suasana acara yang berlangsung secara kekeluargaan, Pratu IB sempat berinteraksi dengan salah seorang anggota Brimob.
Beberapa saat kemudian terdengar instruksi agar seluruh anggota Brimob meninggalkan lokasi acara. Setelah sekitar 30 menit, lebih dari 15 anggota Brimob kembali ke lokasi.
"Setiba di lokasi, sejumlah anggota Brimob diduga langsung menarik Pratu IB ke arah jalan raya sejauh kurang lebih 40 meter sebelum kemudian terjadi tindakan pemukulan dan pengeroyokan," ujar Amrizal Nasution, Sabtu (13/6/2026).
Mendapati kondisi Pratu IB, Pratu IW berupaya memberikan pertolongan.
Namun, ia juga menjadi sasaran pemukulan dan pengeroyokan.
Akan tetapi, saat dikeroyok, Pratu IW berhasil mencari celah untuk kabur dan langsung berlari menuju rumah orang tuanya untuk mengambil sebuah pisau kerambit.
Amrizal menyebut bahwa Pratu IW mengakui telah melakukan penikaman terhadap anggota Brimob yang terlibat dalam insiden.
Namun berdasarkan keterangannya, tindakan tersebut dilakukan saat dirinya merasa terdesak, mengalami kekerasan fisik, dan menilai keselamatan dirinya berada dalam ancaman akibat pengeroyokan.
Amrizal menegaskan bahwa seluruh fakta yang diperoleh ini masih merupakan hasil pemeriksaan awal. Oleh karena itu, proses pendalaman terus dilakukan guna memperoleh gambaran yang utuh mengenai kronologi, motif, serta pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Versi Brimob Polda NTT
Wadanyon B Pelopor Sat Brimob Polda NTT, AKP Antonio Cortareal menjelaskan, insiden tersebut berawal ketika sejumlah personel Brimob mengikuti acara Misa syukuran pelantikan Anggota Brimob Bripda JGR yang berlokasi di Dusun Waemata.
Awalnya acara berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh suasana kekeluargaan.
Kemudian, saat anggota Brimob hendak pulang pada Kamis (11/6/2026) sekira pukul 01.00 Wita, berpapasan dengan salah satu terduga pelaku berjumlah tiga orang.
"Salah seorang terduga pelaku langsung menendang salah satu anggota Brimob atas nama Bripda R," katanya.
Melihat Bripda R ditendang, empat rekan lainnya pun hendak melerai pertikaian.
Namun, pertikaian tidak lagi terhindarkan, hingga salah terduga pelaku lainnya langsung menikam anggota Brimob.
"Setelah tikam, ketiga terduga pelaku langsung melarikan diri. Sedangkan anggota Brimob kami langsung larikan ke RS Siloam," tukasnya.
Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra mengatakan, insiden tersebut tidak akan mengganggu hubungan baik dan sinergitas yang selama ini telah terbangun kokoh antara TNI dan Polri di NTT.
"Kapolda NTT dan Pangdan IX/ Udayana, serta Danrem memiliki komitmen yang sama bahwa kejadian ini merupakan kesalahpahaman yang bersifat spontan. Kami terus berkoordinasi secara intensif untuk menyelesaikan persoalan ini secara bijaksana dan profesional," ujar Henry.
Henry melanjutkan, fokus utama adalah memastikan seluruh personel yang mengalami luka mendapatkan penanganan medis terbaik. Sehingga, seluruh korban diharapkan bisa pulih sepenuhnya.
Selain itu, sebagai bentuk keseriusan dalam penanganan peristiwa tersebut, kedua pimpinan TNI-Polri di NTT sepakat mengedepankan pendekatan profesional, objektif, dan penuh kebijaksanaan.
Sumber: Kompas.com


COMMENTS