Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani mempertanyakan tujuan dan urgensi dari tindakan peluk dan cium siswa di Sabu, NTT.
![]() |
| Viral guru di Sabu, NTT peluk-cium siswa. |
JAKARTA, SIANAKAREN.COM – Sebuah video yang memperlihatkan aksi seorang guru di Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang memeluk dan mencium siswanya di lingkungan sekolah mendadak viral di media sosial.
Fenomena ini memicu reaksi keras dari parlemen, khususnya Komisi X DPR RI yang membidangi urusan pendidikan.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani mempertanyakan tujuan dan urgensi dari tindakan tersebut.
Dalam keterangannya, pihak DPR menekankan bahwa meski kasih sayang merupakan bagian dari proses mendidik, ekspresi fisik yang berlebihan seperti peluk dan cium antara guru dan murid di ruang publik sekolah dapat menimbulkan salah tafsir dan melanggar batas-batas profesionalisme seorang pendidik.
"Pendidikan karakter, mental dan kesehatan jiwa itu tidak hanya berlaku untuk siswa, tapi juga ditanamkan untuk guru untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan," katanya, Jumat (6/3).
Ia pun mendesak Dinas Pendidikan di Kabupaten untuk menyelidikan kejadian tersebut sehingga terungkap kebenarannya.
Pertama, melakukan klarifikasi langsung kepada oknum guru dan pihak sekolah yang bersangkutan.
Kedua, memberikan pembinaan terkait standar operasional prosedur (SOP) interaksi antara pendidik dan peserta didik.
Ketiga, memastikan lingkungan sekolah tetap menjadi ruang yang aman dan bebas dari segala bentuk perilaku yang berpotensi melanggar norma susila.
"Dinas Pendidikan di NTT perlu mendalami apakah ini bentuk kasih sayang guru kepada murid atau bukan," tandasnya.
Adapun, guru di dalam video yang viral tersebut diketahui Bernama Rusly Lingu Djara (34). Dia adalah pengajar pada SMP Negeri 2 Sabu Timur, Sabu Raijua.
Dalam video yang beredar, tampak Rusly memeluk dan mencium pipi murid-muridnya yang diduga setelah menyelesaikan kelas pembelajaran.
Sementara itu, Rusly mengaku kaget melihat postingan viral itu. Karena di lingkungan sekolah maupun di kalangan orang tua murid, ia dikenal sebagai guru yang tegas sekaligus penyayang siswa.
"Awal lihat postingan di Instagram terus terang beta (saya) kaget, karena video itu viral dan dikatai tidak benar," katanya.
Menurut Rusly, video yang viral itu direkam setelah jam belajar usai. Dari sejumlah siswa dalam video tersebut, salah satunya merupakan anak angkatnya.
"Saya dekat sekali dengan anak-anak itu, karena saya ini pembina OSIS, karena saya dengan anak-anak biasa buat rantangan cari dana OSIS dan mereka biasa ke rumah saya juga," pungkasnya.
Ia menegaskan, tidak pernah menyebut tindakan dalam video itu sebagai bagian dari adat atau budaya setempat.
Menanggapi polemik yang terjadi, Sekretaris Daerah Kabupaten Sabu Raijua, Septenius Bule Logo, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan Dinas Pendidikan untuk melakukan peninjauan ke sekolah tempat Rusly bekerja.
"Kita sudah perintahkan Sekdinas Pendidikan agar beri perhatian dan menelusuri hal itu," tulisnya di WA.
Reaksi Publik
Video tersebut menuai perdebatan luas di kalangan netizen.
Sebagian menganggap hal itu sebagai bentuk "budaya kasih sayang" lokal di NTT.
Namun mayoritas akademisi dan pemerhati anak sepakat dengan DPR bahwa institusi pendidikan harus memiliki batasan fisik yang tegas demi mencegah potensi penyimpangan perilaku pada anak.


COMMENTS