Sebuah peristiwa memilukan menimpa seorang siswi SMP MBC Ohe di Sikka, Stefania Trisanti Noni, yang ditemukan tewas setelah diperkosa temannya FRG.
![]() |
| Noni dan FRG. |
MAUMERE, SIANAKAREN.COM -- Sebuah peristiwa memilukan menimpa seorang siswi SMP berinisial STN (Stefania Trisanti Noni).
Gadis berusia 14 tahun yang sempat dilaporkan hilang sejak Jumat, 20 Februari 2026, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Senin, 23 Februari 2026 aliran Kali Watuwogat, dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Tubuh penuh luka dan tanpa busana.
Noni, demikian sapaan korban, adalah remaja yang berbakat di sekolahnya. Saat ini duduk di bangku kelas II SMP MBC Ohe.
![]() |
| Stefania Trisanti Noni. |
Langit duka pun menggantung di atas Dusun Woloklereng, Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka.
Peristiwa ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Desa Rubit.
STN dikenal sebagai pribadi pendiam, rajin bersekolah, dan tidak pernah terlibat masalah. Kepergiannya yang tragis di usia 14 tahun mengguncang rasa aman warga.
Menurut keterangan Polres Sikka, mula-mula ia pamit dari rumahnya di Dusun Romanduru untuk mengambil gitar yang dipinjam temannya FRG. Jarak rumah korban dengan rumah yang dituju hanya sekitar 500 meter—jarak yang bagi warga setempat bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan.
Namun senja berlalu tanpa kabar. Hingga pukul 20.00 WITA, korban tak kembali. Keluarga yang diliputi kegelisahan segera melakukan pencarian ke rumah kerabat dan lingkungan sekitar. Malam itu, harapan masih menyala. Tetapi hari demi hari berlalu tanpa jejak.
Pada Minggu (22/2/2026), keluarga resmi melaporkan kehilangan tersebut ke Polsek Kewapante jajaran Polres Sikka Polda NTT. Aparat kepolisian bersama keluarga dan warga mulai menyisir sejumlah titik yang dicurigai.
Ironisnya, rumah yang terakhir didatangi korban diketahui dalam keadaan kosong sejak hari hilangnya korban. Fakta ini memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Senin siang (23/2/2026), pencarian kembali dilakukan dengan memperluas radius penyisiran. Sekitar pukul 14.00 WITA, seorang warga, Emanuel Mula (46), mencium bau menyengat dari arah Kali Watuwogat.
Rasa curiga membawanya mendekati tumpukan batu, rerumputan, dan potongan bambu yang tampak tidak lazim. Tumpukan itu seperti sengaja disusun. Ketika diperiksa lebih dekat, terlihat bagian tubuh manusia di balik susunan material alami tersebut.
Warga yang dipanggil untuk memastikan, akhirnya menyadari bahwa sesosok jasad perempuan berada di bawah timbunan itu.
Dugaan kuat mengarah pada STN, siswi yang hilang sejak tiga hari sebelumnya. Suasana berubah mencekam. Tangis keluarga pecah di lokasi. Informasi segera diteruskan kepada aparat desa dan kepolisian.
Sekitar pukul 15.00 WITA, personel Polsek Kewapante bersama Tim Inafis dari Polres Sikka tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Garis polisi dipasang, warga diminta menjauh, dan proses identifikasi dilakukan secara cermat.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSUD TC Hillers Maumere guna pemeriksaan medis lebih lanjut. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal tim medis, ditemukan adanya indikasi luka pada tubuh korban.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa korban mengalami penganiayaan berat hingga meninggal dunia.
Kasus ini kini ditangani intensif oleh Sat Reskrim Polres Sikka. Sejumlah saksi telah diperiksa, termasuk warga yang pertama kali menemukan jasad korban.
Pada Selasa (24/2/2026), penyidik melakukan pemeriksaan terhadap dari teman korban.
Setelah pemeriksaan, kepolisian menetapkan teman korban berinisial FRG beserta ayah dan kakeknya sebagai tersangka.
![]() |
| Stefania Trisanti Noni. |
Kronologi Kasus Noni
Berdasarkan keterangan keluarga melalui kuasa hukum Vitor Nekur cs, peristiwa ini bermula pada hari Jumat, 20 Februari 2026 dengan linimasa sebagai berikut:
1. Mula-mula gitar milik Nona STN sering dipinjam oleh FRG. Biasanya gitar tersebut dipinjam dan kemudian dikembalikan di sekolah atau di rumah, karena keduanya bersekolah di SMP MBC Ohe dan sepengetahuan keluarga, hubungan mereka hanya sebatas teman.
Namun, pada kejadian terakhir, setelah meminjam gitar, FRG tidak mengembalikannya di sekolah seperti biasa. Ia meminta STN untuk mengambil sendiri gitar tersebut di rumahnya.
2. Pada Jumat, 20 Februari 2026, sekitar pukul 17.00 Wita, Nona STN meminta sepupunya untuk mengantarnya ke rumah FRG guna mengambil gitar. Sepupunya bersedia mengantar. Ketika mereka tiba di Woloklereng, dusun tempat tinggal FRG, hujan lebat turun sebelum mereka sampai di rumah.
Keduanya kemudian berteduh di kios milik Bapak Geradus. Setelah hujan reda dan hari semakin sore, sepupunya mengajak Nona STN pulang serta menyarankan agar gitar diambil keesokan harinya. Awalnya Nona STN menolak, tetapi akhirnya sekitar pukul 18.00 Wita mereka pulang.
Nona STN diantar sampai ke rumah dan masuk melalui dapur dengan menuruni tangga. Sepupunya kemudian langsung kembali ke rumahnya sendiri.
Namun, tanpa sepengetahuan orang tuanya, STN keluar lagi sendirian untuk mengambil gitar tersebut.
3. Sekitar pukul 18.30 Wita, dalam perjalanan, STN sempat bertemu dengan mama kecilnya. Ia sempat bertanya mengenai Dikta, anak dari mama kecilnya, dan menyampaikan bahwa ia hendak pergi mengambil gitar di rumah FRG.
Setelah itu, mama kecilnya tidak mengetahui ke mana arah Nona STN pergi.
4. Sekitar pukul 20.00 Wita, ibu STN menghubungi keluarga dan menanyakan keberadaan STN karena yang bersangkutan tidak berada di rumah. Mama kecilnya kemudian teringat bahwa Nona STN sempat mengatakan hendak mengambil gitar di rumah FRG. Sekitar pukul 20.45 Wita, mama kecilnya dan suaminya berangkat ke rumah FRG.
5. Dalam perjalanan, bapak dan mama kecil bertemu dengan FRG di jalan setapak menuju rumahnya. Ketika ditanya apakah STN datang ke rumahnya, FRG mengatakan bahwa STN sudah datang, gitar telah diberikan bersama dua buah durian, dan STN sudah pulang. FRG juga mengatakan bahwa ia berada di rumah sendirian karena orang tuanya sedang menghadiri acara, dan listrik padam sehingga ia sempat meminjam senter kepada Mama Dominika Dole.
Keluarga kemudian berkesimpulan bahwa mungkin STN masih dalam perjalanan pulang, sehingga mereka kembali mengambil sepeda motor untuk mencarinya di sepanjang jalan menuju rumah STN.
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan ayah dan kakek FRG yang baru pulang dari acara. Namun, karena mengira Nona STN masih dalam perjalanan, mereka tidak sempat berbicara dan langsung melanjutkan pencarian hingga tiba di rumah orang tua STN. Setibanya di sana, bapak dan mama kecil bertanya apakah STN sudah pulang, tetapi jawabannya belum kembali.
6. Sekitar pukul 21.30 Wita, keluarga memutuskan untuk pergi ke rumah FRG untuk bertanya kembali. Kedua orang tua STN serta mama kecilnya menuju rumah FRG. Setibanya di Woloklereng, ibu STN, mama kecilnya, dan Mama Dominika Dole menuju rumah FRG, karena Mama Dole yang mengetahui jalan menuju rumah tersebut.
7. Sekitar pukul 22.00 Wita, keluarga tiba di rumah FRG. Mereka bertemu dengan ayah FRG berinisial SG, ibu tiri FRG berinisial MT, kakek FRG berinisial VS, nenek FRG berinisial PB, serta dua anak kecil lainnya.
8. Mama kecil STN kemudian menanyakan kembali keberadaan STN kepada FRG. FRG menjawab bahwa STN sudah pulang sambil menunjuk ke arah jalan setapak yang, sepengetahuan keluarga, sudah sekitar 20 tahun tidak pernah dilalui masyarakat.
Keluarga terkejut dan menyatakan kekhawatiran bahwa Nona STN mungkin tersesat. Namun, ayah FRG, yaitu SG, membantah dan mengatakan bahwa jalan tersebut sering mereka lewati.
Mama kecil STN kemudian meminta agar keluarga FRG mengantar melalui jalan tersebut, tetapi tidak ada yang bersedia. Keluarga akhirnya memutuskan untuk mencari sendiri melalui jalan yang ditunjuk, kemudian bertemu beberapa warga dan bersama-sama melakukan pencarian.
9. Keluarga dan masyarakat sekitar terus melakukan pencarian hingga pukul 03.00 Wita. Pencarian malam itu dilakukan sekitar lima kali. Pencarian pertama dilakukan oleh Bapak Kecil Eman dan istrinya. Pencarian kedua dilakukan oleh ibu STN, mama kecil, dan Mama Dole.
Pencarian ketiga dan keempat dilakukan oleh warga masyarakat. Pada pencarian keempat, warga langsung menuju rumah FRG dan bertemu dengan SG, ayah FRG. Ketika ditanya mengenai FRG, SG mengatakan bahwa FRG sudah tidur. SG juga menyampaikan bahwa STN telah kembali ke rumahnya sejak tadi dengan membawa tiga durian, satu dimakan dan dua dibawa pulang.
Pernyataan ini berbeda dengan keterangan sebelumnya yang menyebut dua durian.
10. Pada pencarian kelima, sekitar pukul 03.00 Wita, karena lokasi rumah FRG berdekatan dengan areal kebun dan lahan yang sering dianggap angker atau sakral oleh masyarakat setempat, serta mengingat STN sebelumnya pergi ke rumah FRG, keluarga meminta kepada kakek FRG agar melakukan ritual adat untuk memanggil pulang STN.
Kakek FRG bersedia melakukan ritual dengan catatan bahwa ritual dilakukan di rumah STN. Kakek FRG kemudian meminta keluarga menyiapkan air putih, piring putih, baju, serta sarung milik anak korban.
Setelah ritual selesai, kakek FRG menyampaikan bahwa Eo apatiwa (yang berarti tidak apa-apa, aman-aman saja) dan STN akan pulang esok pagi pukul 06.00 Wita dalam keadaan hidup. Sekitar pukul 04.00 Wita, kakek FRG kembali ke rumahnya.
11. Pada hari Sabtu, 21 Februari 2026, sekitar pukul 05.00 Wita, mengingat pernyataan kakek FRG bahwa STN akan pulang pukul 06.00 Wita, keluarga dan warga kembali melakukan pencarian di sekitar rumah FRG, namun tidak membuahkan hasil.
Saat pencarian, salah satu keluarga sempat bertemu dengan kakek FRG di kebun dekat rumah dengan membawa sebilah parang, dan yang bersangkutan menyatakan sedang mencari STN. Kemudian, ada warga yang menyampaikan bahwa mereka melihat SG bersama FRG berlari mengikuti jalan setapak sambil membawa helm.
12. Sekitar pukul 07.00 Wita, rumah FRG dalam keadaan terbuka, pintu depan dan belakang terbuka, serta tidak terdapat penghuni di dalam rumah. Keluarga mulai menduga bahwa Nona STN bukan hilang secara biasa, tetapi kemungkinan dibawa atau disembunyikan.
Jika benar Nona STN pergi secara sukarela, mengapa seluruh penghuni rumah SG dan FRG harus meninggalkan rumah dan menghilang?
13. Pada Sabtu pagi, keluarga melapor ke Polsek Kewapante. Namun, tanggapan awal pihak Polsek Kewapante menyatakan bahwa biasanya anak perempuan yang hilang diduga lari ikut laki-laki atau pergi ke rumah teman, sehingga keluarga diminta mencari terlebih dahulu di rumah keluarga atau teman. Keluarga tetap melakukan pencarian secara mandiri.
14. Pada Minggu pagi, pemilik kebun yang bersebelahan dengan rumah SG menemukan bekas seretan menuju ke arah kali. Jejak tersebut menyerupai bekas tarikan sesuatu. Jejak ditelusuri hingga mendekati kali dan tercium bau amis.
Namun, karena sebelumnya sempat ada informasi bahwa babi milik Mama Dole hilang, keluarga mengurungkan niat untuk memeriksa lebih lanjut karena menduga bau tersebut berasal dari babi yang hilang dan dibunuh di kali. Kemudian diketahui bahwa babi tersebut tidak hilang, hanya lepas dan kembali sendiri. Hal ini semakin memperkuat kecurigaan.
15. Sekitar pukul 19.00 Wita, keluarga kembali melakukan pencarian di lokasi sekitar rumah FRG hingga pukul 21.00 Wita, tetapi tidak membuahkan hasil. Keluarga dan warga kemudian pulang untuk beristirahat.
16. Pencarian dilanjutkan sekitar pukul 22.30 Wita hingga pukul 02.00 Wita, tetapi tetap tidak membuahkan hasil. Pencarian saat itu diwarnai situasi yang dianggap mistis ketika penyisiran dilakukan di setiap pondok yang berada di lahan kebun dekat kali, mulai dari mendengar suara tangisan menyerupai suara STN hingga melihat sosok yang menyerupai STN berlari, kemudian terantuk dan jatuh terguling, lalu berubah wujud menjadi babi.
17. Pada hari Senin, 23 Februari 2026, sekitar pukul 13.00 Wita, setelah melakukan ritual untuk arwah leluhur dan memperoleh petunjuk melalui saudaranya di Kupang melalui sambungan telepon, keluarga STN bersama masyarakat melanjutkan pencarian. Sekitar pukul 15.00 Wita, STN ditemukan di pinggir kali dalam keadaan sudah tidak bernyawa, terselip di antara bebatuan, dalam kondisi sangat memprihatinkan. STN ditemukan dalam kondisi:
- Tanpa busana
- Terbaring dalam lubang batu di sungai, ditutupi daun bambu kering, batang pisang, serta ditindis potongan-potongan bambu dan kayu kering
- Bagian kepala ditindis satu batu berukuran sedang (sekitar ukuran kepala manusia)
- Di sekitar badan terdapat beberapa batu berukuran sedang.
18. Setelah penemuan tersebut, keluarga menghubungi Polres Sikka untuk melakukan evakuasi jenazah. Pihak kepolisian tiba di lokasi sekitar pukul 17.00 Wita dan melakukan evakuasi terhadap jenazah STN. Jenazah kemudian dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan proses lebih lanjut.
Pada saat itu, pihak kepolisian juga membawa serta sandal berwarna hitam yang ditemukan tidak jauh dari lokasi (di sekitar bekas seretan) tempat STN ditemukan.
19. Pada hari Rabu, 25 Februari 2026, pihak kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Saat itu ditemukan sandal jepit milik STN yang dibungkus dalam sebuah sarung dan berada di rumah FRG. Pada saat yang sama, turut diamankan lima buah parang sebagai barang bukti. Rumah FRG kemudian dipasangi garis polisi.
Kuasa hukum keluarga STN, yang terdiri dari Victor Nekur, S.H., San Fransisco Sondy, S.H., M.H., dan tim, terus mengawal kasus ini guna memastikan keadilan bagi almarhumah.*




COMMENTS