--> Membedah Peran DPR melalui Teori Utilitarianisme John Stuart Mill | Si Anak Aren

Membedah Peran DPR melalui Teori Utilitarianisme John Stuart Mill

DPR memiliki posisi penting sebagai lembaga kepentingan masyarakat. Namun esensi itu kini sudah mulai bergeser menjadi kepentingan pribadi/golongan.

Suasana sidang di Gedung DPR.

Oleh: Aprianus Gregorian Bahtera

Mahasiswa FFA Unwira Kupang


Legislatif Nasional, yang dalam sistem pemerintahan dikenal sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), memiliki posisi penting sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. 

Tugas utama DPR meliputi pembuatan undang-undang bersama presiden, pengesahan serta pengawasan terhadap anggaran negara, dan memastikan pengimplementasian undang-undang dilakukan dengan benar oleh pemerintah.

Secara singkat, wujud keterwakilan DPR tersirat dalam tiga fungsi pokok yaitu legislasi, penganggaran, dan pengawasan pemerintahan. 

Medio Agustus 2025 lalu, masyarakat di berbagai wilayah menggelar untuk rasa sebagai bentuk respons terhadap keputusan peningkatan insentif bagi anggota legislatif. 

Demonstrasi waktu itu dilatarbelakangi oleh kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut dapat memicu dampak negatif yang merugikan masyarakat luas. 

Apa Fungsi DPR?

Fungsi DPR yang seharusnya menjadi perwakilan suara rakyat bukan menjadi penghalang rakyat untuk menyampaikan suara kebenaran. Sebagai perwakilan berarti menyuarakan keluhan rakyat agar pihak pemerintah tertinggi dapat mendengarkannya. 

Selain itu DPR sebagai perwakilan suara Rakyat dengan tugas mengurus atau mengatur alokasi dana untuk kepentingan publik, dalam kenyataannya berubah menjadi sumber permasalahan yang menimbulkan penderitaan masyarakat secara keseluruhan.

Dari yang semula DPR hadir sebagai wakil aspirasi masyarakat, kini keberadaannya justru dianggap merusak kesejahteraan dan mengikis kebahagiaan kolektif.

Demonstransi yang terjadi dari berbagai daerah mulai dari provinsi hingga daerah kabupaten tahun 2025 adalah tuntutan untuk menurunkan bahkan membubarkan DPR sebagai lembaga perwakilan.

Hal ini terjadi karena masyarakat merasa terbebani oleh meningkatnya beban pajak yang harus mereka bayar, sementara mayoritas hidup jauh dari kesejahteraan sejati. 

Sebenarnya,undang-undang dan aturan dibuat dengan tujuan mensejahterakan rakyat dan memastikan keadilan berjalan. 

Dengan demikian, DPR yang merupakan wakil rakyat jika gagal mewakili aspirasi masyarakat maka masyarakat pun berhak menuntut perubahan atau bahkan penggantian lembaga tersebut yang sudah kehilangan hakikatnya. 

Melihat fenomena ini melalui lensa teori Utilitarisme yang digagas oleh John Stuart Mill, dapat dipahami bahwa tindakan atau kebijakan yang menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan sebesar mungkin bagi sebanyak-banyaknya orang, tanpa menghiraukan prosedur formalnya.

Konteks Publik

Dalam konteks kebijakan publik, keputusan yang paling tepat adalah yang mampu memberi manfaat maksimal bagi masyarakat luas, bukan hanya untuk kelompok atau individu tertentu saja. 

Dalam hal peningkatan insentif bagi anggota legislatif ini, meskipun pemerintah memiliki kewenangan serta prosedur yang telah ditetapkan secara resmi, pada intinya keputusan tersebut tidaklah tepat. 

Pilihan kebijakan ini justru memicu dampak buruk yang luas karena menimbulkan rasa ketidakadilan di antara masyarakat. 

Pemerintah mengambil kebijakan menaikkan insentif anggota legislatif bersamaan dengan peningkatan pajak yang cukup besar bagi rakyat. 

Perspektif Utilitarianisme Mill

Jika ditelaah menggunakan sudut pandang utilitarianisme Mill, kebijakan ini hanya menguntungkan sebagian orang secara individual, bukan menciptakan kesejahteraan bersama. 

Pemerintahan justru melanggar hak rakyat dengan membebani mereka melalui pajak yang tinggi tanpa adanya timbal balik dalam bentuk kesejahteraan yang dirasakan secara merata. 

Sementara itu DPR kehilangan makna sebagai representasi keluh kesah rakyat, sebaliknya lebih fokus pada kepentingan pribadi sehingga eksistensinya menjadi dipertanyakan. 

Padahal DPR dipilih oleh masyarakat untuk mewakili aspirasi mereka secara intelektual dan moral. 

Jika masyarakat merasa aspirasi mereka tidak diperjuangkan, mereka pun berhak bersikap dan menunjukkan ketidakpuasan, bahkan sampai pada tuntutan pembubaran DPR.

Dalam konteks ini, penulis menggunakan pendekatan teori Utilitarianisme sebagai nilai etika dalam menilai kebijakan tersebut. 

John Stuart Mill mengajarkan bahwa konsekuensi dari sebuah keputusan sangat penting untuk dinilai, di mana keputusan yang salah akan menghasilkan kerugian bagi keseluruhan masyarakat. 

Menurut Mill, pengambilan kebijakan harus bertujuan pada pencapaian kesejahteraan bersama bukan hanya kepuasan individu semata. 

Konsep kebahagiaan bersama yang dimaksud termasuk dalam kategori kebahagiaan tingkat tinggi (higher pleasures) yang berhubungan dengan aktivitas intelektual, moral dan estetik seperti membaca, berpikir, dan berinteraksi sosial.

Di sini John Stuart Mill menekankan pentingnya kebahagiaan tingkat tinggi, yang tidak hanya sebatas kesenangan fisik atau kebutuhan dasar, melainkan termasuk kebahagiaan intelektual dan moral yang mendalam. 

Dalam konteks pemilihan anggota legislatif, Mill berargumen bahwa individu yang dipilih harus memiliki wawasan intelektual yang luas serta integritas moral yang kuat. 

Hal ini mencerminkan kebutuhan agar para wakil rakyat tidak sekadar mewakili suara mayoritas secara mekanis, tetapi mampu menganalisis secara kritis dan mengambil keputusan yang mengutamakan kepentingan umum jangka panjang. 

Karena itu, proses seleksi anggota legislatif seharusnya tidak hanya mengandalkan popularitas atau kemampuan kampanye yang efektif, tetapi juga evaluasi kualitas karakter dan kemampuan mereka dalam memahami isu-isu kompleks yang bersinggungan dengan kehidupan masyarakat. 

Wawasan intelektual yang dimaksud antara lain kemampuan untuk berpikir rasional, memahami berbagai sudut pandang, serta memiliki pengetahuan luas tentang ekonomi, sosial, hukum dan kebijakan publik. 

Sedangkan moralitas yang baik meliputi kejujuran, keadilan, dan rasa tanggung jawab sosial yang tinggi. 

Dengan kualitas seperti ini, legislatif akan mampu menjalankan fungsi pengawasan, legislasi, dan perwakilan secara optimal. 

Masyarakat modern menghadapi berbagai tantangan yang kompleks, seperti ketimpangan sosial, perubahan lingkungan, dan dinamika ekonomi global. 

Oleh sebab itu, anggota legislatif yang berwawasan intelektual dan moral akan lebih mampu merumuskan kebijakan yang tidak hanya bersifat pragmatis dan sementara, tetapi yang mengarah pada solusi berkelanjutan dan inklusif. 

Mereka tidak hanya memikirkan kepentingan kelompok tertentu atau tekanan politik sesaat, melainkan menyusun strategi kebijakan yang mengedepankan keadilan sosial, perlindungan hak asasi, dan peningkatan kualitas hidup seluruh warga negara. 

Selain itu, dengan adanya wakil rakyat yang bertanggung jawab secara moral, kepercayaan publik terhadap institusi politik dan pemerintahan dapat meningkat. 

Kepercayaan ini menjadi modal sosial yang sangat penting untuk menyatukan masyarakat dalam ikatan solidaritas dan kerja sama. 

Ketika masyarakat merasa suara mereka benar-benar tercermin dan diperjuangkan oleh para wakilnya, maka partisipasi publik dalam kehidupan demokrasi akan semakin aktif dan konstruktif. 

Proses demokrasi pun tidak sekadar sebagai rutinitas prosedural, tetapi menjadi sarana aktualisasi nilai-nilai kebaikan bersama. 

Selanjutnya, kebahagiaan tingkat tinggi ini juga berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan kolektif yang menembus batas kepuasan pribadi. 

Seseorang yang bertugas sebagai wakil rakyat harus memiliki motivasi untuk menciptakan kondisi sosial di mana seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati manfaat yang adil dan merata. 

Ini termasuk akses pada pendidikan berkualitas, pelayanan kesehatan yang memadai, kesempatan kerja, serta perlindungan lingkungan yang lestari. 

Tujuan akhirnya adalah membangun masyarakat yang tidak hanya sejahtera secara materi, tetapi juga berkembang secara intelektual dan spiritual. Pengembangan kebahagiaan tingkat tinggi pada pemimpin legislatif juga berpengaruh positif terhadap budaya politik di sebuah negara.

Kultur politik yang mengedepankan etika, saling menghormati, dan dialog terbuka akan memfasilitasi terciptanya keputusan yang fundamental dan mengakar pada kebenaran bersama. 

Hal ini kontras dengan budaya politik yang didasarkan pada kepentingan sempit, korupsi, dan manipulasi, yang hanya menimbulkan keretakan sosial dan ketidakadilan. 

Secara praktis, untuk mewujudkan hal ini diperlukan beberapa langkah fundamental dalam sistem politik dan pendidikan politik masyarakat. 

Pertama, pendidikan politik yang menekankan pentingnya integritas dan kemampuan analitis bagi calon legislatif harus diperkuat. 

Kedua, partai politik dan lembaga pemilihan umum harus mengimplementasikan mekanisme penyaringan calon yang ketat, tidak hanya berdasarkan popularitas atau kekuasaan finansial tetapi juga tekan jejak moral dan intelektual. 

Ketiga, masyarakat juga harus aktif dalam mengawasi dan menilai kinerja wakil rakyatnya agar dapat terus memberikan tekanan positif untuk perbaikan. 

Melalui upaya pengembangan kebahagiaan tingkat tinggi ini, para anggota legislatif diharapkan menjadi turutan yang menginspirasi dan memotivasi seluruh masyarakat. 

Keteladanan ini akan membangun budaya tanggung jawab sosial yang kokoh, memperkuat solidaritas, sekaligus mempercepat proses pembangunan bangsa menuju kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan. 

Jadi Mill mengajukan sebuah visi yang jauh melampaui aspek teknis demokrasi, yaitu demokrasi sebagai wadah pengembangan manusia secara utuh intelektual, moral, dan sosial demi terciptanya kebahagiaan kolektif yang hakiki.*

COMMENTS

Entri yang Diunggulkan

Simfoni Harapan untuk Penyintas Kanker Rumah Singgah Lions

Konser musik amal Lions Club Jakarta Tomang Sejati untuk penyintas kanker. SIANAKAREN.COM -- Di bawah gemerlap lampu panggung Teater Besar d...

Nama

4 Wanita Pesta Miras,1,Ade Chaerunisa,1,Adonara,1,Advetorial,1,Ahmad Sahroni,1,Aktor Politik,7,Alex Longginus,2,Andreas Hugo Pareira,3,Anggota DPRD TTU,1,Ansar Rera,1,Ansy Jane,1,Ansy Lema,28,Ansy Lema for NTT,3,Apel Hari Pancasila Ende,1,Bandara Ende,1,Bandara Maumere,1,Bank NTT,1,Bapa Sindi,1,Bapa Suci,1,Bayi Menangis,1,Bela Negara,1,Bentrok Antar Gereja,1,Berita Flores,1,Bertrand Peto,1,Bertrand Pulang Kampung,1,Beta Cinta NTT,4,Betrand Peto,1,Bupati Sikka,1,Cafe Alung,1,Calon Gubernur NTT,6,Calon Gubernur PDIP,1,Car Free Night,1,Carlo Ancelotti,1,Catar Akpol Polda NTT,1,Dana Pensiun,1,Danau Kelimutu,1,Danau Tiga Warna,1,Degradasi Pancasila,1,Desa Fatunisuan,1,Doktor Filsafat dari Nagekeo,1,DPD Hanura NTT,1,DPO Kasu Vina,1,DPRD Nagekeo,2,Dr. Sylvester Kanisius Laku,1,El Asamau,1,Elektabilitas Ansy Lema,1,Elon Musk,1,Ende,3,Erupsi Gunung Lewotobi,2,Euro 2024,1,Film Vina,1,Flores,1,Flores NTT,1,Flores Timur,4,GABK,1,Gen Z,1,GPIB,1,Gubenur NTT,1,Gubernur NTT 2024,1,Gugat Cerai,1,Gunung Kelimutu,1,Gunung Lewotobi,2,Guru Remas Payudara,1,Gusti Brewon,1,Hari Lahir Pancasila,1,Hasil Pertandingan Spanyol vs Kroasia,1,Hendrik Fonataba,1,Hukrim,24,Hukum-Kriminal,16,Humaniora,215,Ikatan Dosen Katolik,1,IKDKI,1,Influencer NTT,1,Insight,15,Jadwal Kunjungan Paus Fransiskus,1,Jane Natalia,1,Jual Beli Tanah,1,Kadis Koperasi,1,Kaka Ansy,3,Kakek Sabono,1,Kasus Kriminal di NTT,1,Kata-Kata Elon Musk,1,Kata-Kata Inspiratif,2,Kejati NTT,2,Kekerasan Seksual di NTT,1,Keluarga Onsu,1,Kepsek di Rote Ndao,1,Kepsek di TTU,1,Keuskupan Labuan Bajo,1,Keuskupan Maumere,1,KKB,1,Komodo,1,Komuni Pertama,1,Kongres PMKRI,1,Kontroversi PMKRI,1,Korban Longsor,1,Kota Kupang,1,Kunjungan Paus ke Indonesia,1,Labuan Bajo,1,Ledakan Gas,1,Lemondial Business School,1,Liga Champions,1,Longsor di Ende,1,Longsor di Flores,1,Longsor di Nagekeo,1,Mafia Tanah,1,Mahasiswa Nagekeo,1,Malaysia,1,Mama Sindi,1,Maumere Viral,1,Max Regus,1,Media di NTT,1,Megawati,1,Megawati ke Ende,1,Melki Laka Lena,1,Mesum Dalam Mobil,1,Mgr Ewald Sedu,1,Milenial Sikka,1,MK,1,Model Bali,1,Nagekeo,1,Nasional,46,Nelayan NTT,1,Nenek Tenggelam,1,Nona Ambon,1,NTT,1,Pamulang,1,Panti Asuhan Naungan Kasih,1,Papua,1,Pariwisata,6,Paroki Nangahure,1,Pastor Paroki Kisol,1,Pater Budi Kleden SVD,1,Paulus Budi Kleden,2,Paus Fransiskus,3,Paus Fransiskus Tiba di Indonesia,1,Pegi alias Perong,2,Pegi Setiawan,2,Pekerja NTT di Malaysia,1,Pelaku Penikaman,1,Pemain Naturalisasi,1,Pemerkosaan di NTT,1,Pemerkosaan Guru,1,Penggerebekan,1,Pensiunan Bank NTT,1,perempuan dan anak ntt,1,Perempuan NTT,1,Pertanian NTT,1,Piala Liga Champios,1,Pilgub NTT,23,Pilkada NTT,1,Pj Bupati Nagekeo,2,PMI NTT,1,PMKRI,1,PMKRI Papua,1,Polda NTT,1,Politik,41,Polres Sikka,1,Polresta Kupang Kota,1,Pos Kupang,1,Profil Ansy Lema,1,Putra Nagekeo,1,Putusan MK Terbaru,1,Raimudus Nggajo,2,Raja UCL,1,Rasis NTT,1,Refafi Gah,1,Rekonsiliasi Kasus Pamulang,1,Relawan Bara Juang,1,Remi Konradus,1,Rista,1,Rista Korban Ledakan Gas,1,Romo Gusti,1,Romo Max Regus,1,Rote Ndao,1,Ruben Onsu,2,Sabono dan Nona Ambon,1,Safari Politik Ansy Lema,1,Sarwendah,2,Seleksi Akpol 2024,1,Seminari BSB Maumere,1,Sengketa Lahan,1,Shayne Pattyanama,1,Sikka,1,Sis Jane,1,Solar Panel Listrik,1,Spanyol vs Kroasia,1,Status Gunung Kelimutu,1,STF Driyarkara,1,Sumba,1,Sumba Tengah,1,Survei Ansy Lema,1,Survei Charta Politika,1,Survei Indikator Politik,1,Susana Florika Marianti Kandaimau,1,Suster Inosensi,1,Tanah Longsor,1,Tenaga Kerja NTT,1,Tersangka EP,1,Timor Express,1,TPNPM-OPM,1,TTU,2,Universalia,3,Untar,1,Uskup Agung Ende,3,Uskup Baru,3,Uskup Labuan Bajo,2,Uskup Maumere,1,Uskup Max Regus,1,Veronika Lake,1,Video Panas,1,Vina Cirebon,2,Viral NTT,1,Wanita Open BO,1,Yohanis Fransiskus Lema,10,
ltr
item
Si Anak Aren: Membedah Peran DPR melalui Teori Utilitarianisme John Stuart Mill
Membedah Peran DPR melalui Teori Utilitarianisme John Stuart Mill
DPR memiliki posisi penting sebagai lembaga kepentingan masyarakat. Namun esensi itu kini sudah mulai bergeser menjadi kepentingan pribadi/golongan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrXEanJjDfQ0_svpaaDawU53T4uNqQC1rFMVAwvrSbWEZv51CaQoHUCr_bR-KIDOWlCvri54WR2k3PBA6k3cuTdddF6_S6oYrhkT2Ez3pkPsAmpdw_VSI3q5pQXDhg9KepMezLqfkOb8mXC8oTfJ55hKAv4_BVIbMhf5pq8wNrRLjuSxITniqAoBNnQI0/w613-h344/Membedah%20Peran%20DPR%20Melalui%20Teori%20Utilitarisme%20John%20Stuart%20Mill.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrXEanJjDfQ0_svpaaDawU53T4uNqQC1rFMVAwvrSbWEZv51CaQoHUCr_bR-KIDOWlCvri54WR2k3PBA6k3cuTdddF6_S6oYrhkT2Ez3pkPsAmpdw_VSI3q5pQXDhg9KepMezLqfkOb8mXC8oTfJ55hKAv4_BVIbMhf5pq8wNrRLjuSxITniqAoBNnQI0/s72-w613-c-h344/Membedah%20Peran%20DPR%20Melalui%20Teori%20Utilitarisme%20John%20Stuart%20Mill.jpg
Si Anak Aren
https://www.sianakaren.com/2026/03/membedah-peran-dpr-melalui-teori-utilitarianisme-john-stuart-mill.html
https://www.sianakaren.com/
https://www.sianakaren.com/
https://www.sianakaren.com/2026/03/membedah-peran-dpr-melalui-teori-utilitarianisme-john-stuart-mill.html
true
135189290626829409
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy