Ketegangan geopolitik yang berujung pada pecahnya peperangan sejak Sabtu lalu mulai berdampak nyata pada sektor ekonomi di Atambua, Belu, NTT.
![]() |
| Tabung gas Elpiji 20 kg. |
ATAMBUA, SIANAKAREN.COM -- Ketegangan geopolitik yang berujung pada pecahnya peperangan sejak Sabtu lalu mulai berdampak nyata pada sektor ekonomi di perbatasan.
Di Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi NTT komoditas gas Elpiji dilaporkan mengalami kelangkaan parah sekaligus lonjakan harga yang dinilai tidak masuk akal oleh warga.
Hanya dalam hitungan hari sejak konflik dimulai, harga gas Elpiji ukuran 20 kg meroket tajam.
Berdasarkan laporan warga setempat, kenaikan harga ini terjadi secara beruntun sejak Senin hingga Selasa hari ini.
Menurut pengakuan salah satu warga yang memantau situasi pasar secara intensif, kenaikan harga ini sangat mencekik kantong masyarakat.
Minggu lalu harganya masih di kisaran Rp265.000 per tabung. Namun per Senin kemarin, harganya sudah melonjak menjadi Rp335.000 per tabung.
Kenaikannya sebesar Rp70.000 atau sekitar 26% hanya dalam waktu 48 jam.
"Gila, benar-benar gila. Peperangan baru berjalan dua hari, tapi kelipatan harganya sudah luar biasa," ujar salah satu warga yang mengeluhkan kondisi tersebut.
Selain harga yang melambung tinggi, stok gas Elpiji di Atambua juga dikabarkan amat langka.
Warga harus bersusah payah mencari agen atau pangkalan yang masih memiliki persediaan.
Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa spekulan mulai bermain di tengah ketidakpastian situasi global.
Prediksi mengenai dampak ekonomi dari perang ini sebenarnya telah dibicarakan oleh pengamat lokal sebelumnya.
Namun warga tidak menyangka dampaknya akan terasa begitu instan dan "telak" di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste tersebut.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera melakukan operasi pasar atau pengawasan distribusi agar kenaikan harga tidak semakin liar dan menyulitkan rumah tangga maupun pelaku UMKM.


COMMENTS