Labuan Bajo International Festival Art menjadi ajang seni dan budaya berskala global yang dirancang untuk meningkatkan nilai pariwisata bagi warga.
![]() |
| Keindahan Labuan Bajo. |
Oleh: Denis Morgan*
Pariwisata bukan lagi tentang keindahan fisik panorama alam. Pariwisata dalam pemahaman yang lebih luas merupakan tempat pertukaran nilai dan kebudayaan.
Dalam pandangan ini, wisatawan tidak lagi sekadar datang, melihat, dan memotret (came, saw, took a photo), tetapi mereka mencari koneksi mendalam dengan nilai destinasi yang mereka kunjungi. Pengalaman, nilai dan kebudayaan apa yang mereka dapatkan selama berwisata.
Keindahan fisik mungkin hanya bisa dikenang dalam foto atau sketsa, tetapi nilai atau kearifan lokal yang mereka dapatkan di lokasi wisata menjadi narasi yang tak akan lekang oleh waktu, bahkan dapat menjadi wahana promosi baru ie lingkungan yang lebih luas.
Dalam konsepsi ini, saya kemudian berpikir untuk bagaimana adanya sebuah event yang dapat memanfaatkan keindahan destinasi wisata Labuan Bajo dan lainnya di NTT menjadi nilai yang lebih berdampak bagi masyarakat. Tak hanya konversi nilai ekonomi, tapi juga nilai-nilai baru dari luar yang memperkaya kehidupan lokal.
Sebuah gagasan besar terbersit untuk menyelenggarakan Labuan Bajo International Festival Art, sebuah ajang seni dan budaya berskala global yang dirancang untuk menjadi agenda tahunan setiap musim liburan panjang di Labuan Bajo.
Pemilihan waktu pada musim liburan panjang bukan tanpa alasan.
Penyelenggara membidik lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara yang biasanya mencari pengalaman budaya autentik (cultural experience), serta wisatawan domestik yang ingin menikmati liburan keluarga saat liburan panjang.
Gagasan ini bertujuan agar wisatawan tidak hanya melihat Komodo atau berlayar di atas Phinisi, tapi mereka pulang membawa memori tentang kehangatan masyarakat dan kemegahan budaya NTT.
Penyelenggara festival ini harus berasal dari Pemerintah Provinsi NTT yang bekerja sama dengan seluruh Pemerintah Daerah. Hal ini pernah dilakukan ketika event Tour de Flores yang dilakukan satu dekade lalu. Kolaborasi yang telah pernah ada menjadi fondasi untuk bergerak lebih cepat.
Festival ini bukan sekadar hiburan, melainkan strategi besar untuk memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) yang tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga kekayaan intelektual dan budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).
Rencana penyelenggaraan festival ini menitikberatkan pada partisipasi aktif masyarakat. Berbeda dengan festival pada umumnya, Labuan Bajo International Festival Art akan menjadi wadah peleburan antara tradisi dan potensi lokal dengan standar seni internasional.
Agenda kegiatan yang akan dilakukan dapat mencakup beberapa acara pokok, seperti "Simfoni Musisi NTT". Ini adalah panggung utama akan menampilkan talenta-talenta musik terbaik dari berbagai pelosok NTT, mulai dari genre modern hingga kolaborasi etnik yang megah.
Seiring dengan nangkringnya musik Timur di kancah nasional dan pentas global, saatnya musisi seperti Ivan Nestorman, Mario G. Klau, Andmesh Kamaleng, Nyong Franco, Alfred Gare cs, Silet Open Up, Juan Reza, dan lainnya untuk show.
Kemudian ada "Pertunjukan Musik Daerah". Alunan Sasando dari Rote, gong waning dari Sikka, hingga perkusi khas Flores akan mengisi ruang-ruang publik, membawa atmosfer magis bagi para wisatawan.
Tak hanya itu, terdapat pula acara "Eksibisi Tarian Kolosal". Berbagai tarian tradisional seperti Tari Caci, Tari Kataga, hingga Jai, Dero, dan Gawi akan dipentaskan secara kolosal dengan melibatkan banyak penari.
Selain itu, ada juga "Pameran UMKM Unggulan". Produk-produk ekonomi kreatif seperti Kain Tenun ikat motif autentik, kopi Flores, hingga kerajinan tangan khas NTT akan dipamerkan untuk mendorong perputaran ekonomi warga setempat.
Festival ini dirancang agar seluruh lapisan masyarakat NTT tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktor utama.
Keterlibatan masyarakat dalam pameran UMKM dan pertunjukan kolosal memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tercipta bersifat inklusif.
Dengan rencana pelaksanaan rutin setiap tahun, Labuan Bajo International Festival Art optimis dapat menjadi salah satu penggerak utama ekonomi kreatif di NTT.
Konversi Ekonomi
Festival ini dirancang dengan prinsip pariwisata berbasis komunitas. Seluruh elemen masyarakat NTT, mulai dari seniman, pengrajin, hingga penyedia jasa transportasi dan akomodasi, akan dilibatkan secara langsung. Hal ini diharapkan mampu menciptakan efek domino ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal.
Dengan rencana pelaksanaan setiap tahun, Labuan Bajo International Festival Art diharapkan mampu sejajar dengan festival seni ternama dunia lainnya, sekaligus menjadi panggung bagi NTT untuk menunjukkan bahwa mereka adalah permata budaya Indonesia di mata dunia.
Secara konsep, festival ini akan digelar paling sedikit satu minggu (7 hari). Namun jika memungkinkan bisa selama sebulan.
Berdasarkan analisis potensi pasar, festival ini menargetkan kunjungan 1.000-10.000 wisatawan per hari, baik dari mancanegara maupun domestik.
Dengan estimasi rata-rata belanja harian (spending per day) sebesar Rp500.000 per orang untuk kebutuhan kuliner, suvenir UMKM, dan tiket pertunjukan, angka ekonomi yang dihasilkan sangat menjanjikan. Jika yang hadir sebanyak 10.000 orang per hari maka perputaran uang yang terjadi sebesar Rp5 miliar/hari.
Jika festival berlangsung selama satu minggu (7 hari), maka potensi perputaran uang mencapai Rp35 miliar. Atau jika sebulan maka mencapai Rp150 miliar.
Angka ini diprediksi akan langsung mengalir ke kantong pengrajin tenun, pelaku UMKM kuliner, biro perjalanan, penyedia jasa transportasi lokal, hingga sanggar-sanggar seni yang terlibat.
Strategi Promosi
Untuk mencapai target tersebut, perlu strategi promosi yang masif.
Pertama, dominasi bandara nasional. Promosi visual berupa digital signage, videotron, dan instalasi seni mini akan ditempatkan di setiap bandara utama di Indonesia (seperti Soekarno-Hatta, Ngurah Rai, Juanda, Lombok, Medan, dan lainnya) sebagai titik transit utama wisatawan.
Kedua, kampanye digital global. Memanfaatkan media sosial dan platform perjalanan internasional untuk menyasar turis mancanegara yang merencanakan liburan musim panas/panjang.
Ketiga, aktivasi budaya di ruang publik. Menggelar pop-up performance musik daerah dan tarian NTT di pusat-pusat keramaian kota besar sebelum festival dimulai sebagai bentuk "teaser".
Dalam konteks festival ini, keindahan alam Flores hanyalah "panggung", sementara pertukaran nilai budaya adalah "jiwa" dari acara ini. Wisatawan kini lebih menghargai pengalaman di mana mereka bisa belajar dari kearifan lokal. Mereka bukan sekadar menonton Tari Caci, tapi memahami nilai sportivitas dan filosofi hidup di baliknya.
Alih-alih hanya membeli kain tenun, wisatawan juga terlibat dalam dialog dengan penenun tentang arti setiap motif yang melambangkan hubungan manusia dengan alam menurut perspektif orang NTT.
Kemudian panggung kolaborsi musik daerah dan musisi NTT menjadi jembatan rasa yang melampaui sekat bahasa, menciptakan kenangan yang lebih permanen daripada sekadar foto pemandangan.
Semoga gagasan ini bisa terwujud!
*Penulis adalah pegiat media dan komunikasi

COMMENTS