--> Mgr. Paskalis: dari Konflik Internal hingga Sentimen Anti-Flores | Si Anak Aren

Mgr. Paskalis: dari Konflik Internal hingga Sentimen Anti-Flores

Mgr. Paskalis Bruno Syukur mengundurkan diduga karena konflik internal keuskupan Bogor dan sentimen anti-Flores di keuskupan Bogor.


SIANAKAREN.COM -- Tulisan ini akan sangat panjang berkaitan dengan berita ‘Pengunduran diri uskup Paskalis sebagai uskup keuskupan Bogor.

Mengapa Uskup Paskalis mengundurkan diri? Kiranya uraian yang panjang ini tidak membuat Anda menjadi bosan tetapi sebaliknya, membangkitkan rasa 

penasaran Anda atas peristiwa ini. 

Mari kita mulai.

Kapan sebenarnya gejolak ini bermula sehingga berakhir pada keputusan untuk mengundurkan diri.

Desakan Menolak Jabatan Kardinal

Berbagai tuduhan, serangan, sindiran, (mungkin juga fitnah) baik secara terbuka di media sosial maupun secara tersembunyi melalui gosip-gosip atas Uskup Paskalis sebenarnya secara masif dimulai ketika penunjukan beliau sebagai kardinal oleh paus Fransiskus. 

Mulai dari isu abuse of power, penyalahgunaan keuangan, cara hidup seorang uskup yang hedonistik, 

penutupan misi Katolik di Lebak, bahkan sampai pada gosip kedekatannya dengan seorang awam. 

Mulai dari mulut-mulut kaum berjubah sampai umat, baik di dalam maupun di luar keuskupan Bogor, dengan fasih memfabrikasi berbagi gosip dan isu-isu miringi tersebut. 

Dengan cepat gosip-gosip ini tersambung dari satu telinga ke telinga yang lain.

Tanpa terlebih dahulu memferifikasi kebenarannya, (apalagi jika yang membawa gosip tersebut adalah kaum berjubah atau bertongkat) isu-isu miring itu secara perlahan-lahan menjadi kebenaran, terlebih lagi divalidasi dengan foto-foto paparazzi yang diforward dari satu wa ke wa yang lain.

Pada akhirnya kita tahu bahwa dia tidak menerima jabatan kardinal itu.

Di depan publik dia mengatakan alasannya: ia ingin bertumbuh dalam kehidupan imamat dan pelayanannya kepada Gereja dan umat Allah. 

Pertanyaannya adalah apakah dia secara sukarela menolak jabatan itu? 

Apakah paus yang memintanya untuk mundur. Jawabannya tidak. 

Secara hukum seorang Paus tidak mungkin membatalkan keputusannya sendiri. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? 

Mengapa Paskalis batal menjadi Kardinal? 

Ternyata pada suatu malam di bulan Oktober terjadi sebuah ‘operasi senyap’ yang dilancarkan dari wilayah Gambir, Jakpus. Di malam itu, benar-benar tengah malam, dia diminta untuk menulis surat pengunduran diri dari Kardinal. 

Orang dekat Paskalis menceritakan bahwa dia diminta menulis surat hanya dalam waktu 2 jam. 

Ada beberapa tuduhan atas Paskalis (yang akan kita bahas di bagian selanjutnya). Dan berdasarkan itu ia kemudian dia ‘dipaksa’ untuk menyerahkan jabatan kardinal tersebut. 

Akhirnya tidak ada kardinal baru dari Indonesia. 

Meskipun ‘oknum-oknum itu’ telah menyiapkan penggantinya tetapi Paus Fransiskus ternyata memilih orang Italia. 

Setelah peristiwa itu Paskalis merasa bahwa hidupnya dan keuskupannya akan tenang. Akan tetapi, ternyata masalahnya tidak berhenti sampai di situ. 

Penolakan jabatan kardinal disertai berbagai isu atas dirinya tidak membuat Paskalis menjadi redup pamornya. 

Yang terakhir adalah dia juga diminta untuk melepaskan jabatannya sebagai uskup Bogor. Dua kali ‘pemaksaan’ dan dua kali mereka berhasil menggulung Paskalis: sebagai kardinal dan uskup Bogor. 

Kapan itu semua bermula? 

Bermula dari Suster-Suster SFS yang merasa terusir dari Rumah yang sebenarnya ‘bukan rumah mereka’. 

Tentu kita semua sudah tahu ‘drama’ pengusiran Suster-Suster SFS dari Rangkasbitung. Keputusan ‘pengambil-alihan’ Rumah Sakit di Lebak, Banten dari ‘tangan’ suster-suster SFS kembali ke keuskupan ternyata tidak hanya semata-mata dipandang sebagai ‘berpulangnya’ aset keuskupan. (Catatan: rumah sakit ini bukan milik Suster-suster SFS. 

Mereka hanya dipercaya oleh keuskupan Bogor untuk bekerja di sana. 

Pada kenyataannya kontrak SFS dengan Keuskupan Bogor untuk misi Lebak sudah berakhir pada 2023. 

Seharusnya pada 2023 mereka harus angkat kaki dari Lebak. Dan, jauh sebelum suster-suster SFS, rumah sakit misi ini pernah dijalankan oleh para suster FMM, dan sejak 2024 keuskupan memutuskan untuk mengambil alih Rumah sakit ini).

Selain itu, status suster-suster SFS adalah kongregasi keuskupan di mana pemimpin umum mereka adalah uskup Bogor. 

Seharusnya mereka memiliki sikap taat dengan kebijakan uskupnya tanpa harus menggorengnya menjadi sebuah skandal yang melibatkan uskup Paskalis.  

Dan yang lebih mengerikan dari drama suster-suster SFS ini adalah bagaimana mereka memanipulasi berita: yang tadinya ‘diminta untuk meninggalkan’ Lebak kemudian difabrikasi menjadi ‘pengusiran’ dari Lebak. Mereka menempatkan dirinya sebagai korban dan Uskup sebagai pelaku. 

(Catatan: keputusan ini sebenarnya bukan keputusan pribadi seorang uskup Paskalis karena ini adalah hasil diskusi dengan kuria keuskupan dan kemudian menjadi keputusan keuskupan). 

Pada akhirnya, drama ‘PENGUSIRAN’ ini kemudian difabrikasi lagi menjadi abuse of power dari seorang Uskup Paskalis. 

Siapa sebenarnya penyusun strategi yang memfabrikasi masalah ini? Kita tidak tahu persis karena tidak baik untuk menuduh tanpa bukti. 

Tetapi patut kita memberi atensi yang serius atas refleksi dari dua orang anak kandung keuskupan Bogor, Rm. Guntur dan Rm. Natet yang ditulis pada 08/12/2025. 

(Meskipun bagi saya ini bukan refleksi tetapi murni tindakan provokatif karena bagaimana mungkin dikatakan sebuah refleksi tetapi sama sekali tidak berimbang memperlihatkan hal-hal positif dari seorang Gembala).

Saya mengutipnya demikian: “Puncak dari abuse of power ini adalah PENGUSIRAN komunitas para suster SFS dari Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten” (No.2). 

Keduanya adalah pembina di Seminari Tinggi Keuskupan Bogor, yang satu pembina biasa dan yang lainnya adalah Rektor Seminari Tinggi. 

Bagaimana mungkin kedua imam keuskupan ini melihat kasus RS Lebak sebagai tindakan ‘kriminal’ dari seorang uskup. Bukankah sebagai imam Projo keuskupan mereka harusnya bersyukur bahwa aset-aset strategis keuskupan diambilalih oleh keuskupan? 

Kita pun tidak tahu apakah surat ini juga dikirim ke Vatican? 

Seandainya Vatican menerimannya, apakah pihak Vatican mempercayai tuduhan-tuduhan mereka itu? 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya masalah ‘pengusiran’ suster SFS dari Lebak tidak hanya bertransformasi menjadi abuse of power dari seorang Paskalis, tetapi juga berevolusi menjadi persoalan penyalahgunaan keuangan. 

Mereka menuduhnya demikian: dengan diserahkannya RS Lebak ke ‘kaum awam profesional’ hal itu dianggap sebagai strategi dari Paskalis bersama ‘konco-konconya’ untuk memperkaya diri mereka. 

Paskalis dianggap memperoleh keuntungan finansial dari Rumah Sakit (melalui orang-orangnya) dan dengan demikian dia dicap sebagai seorang uskup hedon, suka dengan uang, suka berfoya-foya, dan berbagai tuduhan lainnya. 

Dan tuduhan-tuduhan ini difalidasi oleh foto-foto paparazzi yang memperlihatkan Paskalis sedang berada di sebuah Hotel mewah di Labuan Bajo.

(Catatan: pada saat itu dia sedang pulang libur di kampung halamannya di Labuan Bajo bersama lima keluarga dari keuskupan Bogor yang juga adalah donatur keuskupan. Tanpa ada maksud yang lain mereka ingin berlibur bersama Paskalis di kampung halaman Paskalis, di Labuan Bajo). 

Tidak hanya itu drama ‘pengusiran’ suster-suster SFS juga ditafsirkan sebagai bentuk penghancuran misi katolik di tanah Sunda. 

Berkaitan dengan tuduhan ini, konon Paskalis pernah dipanggil oleh seorang Uskup Senior dari Ibu Kota untuk menjelaskan mengapa Paskalis menghancurkan misi Katolik di tanah Sunda. Paskalis menjawab bahwa keuskupan Bogor sama sekali tidak menutup misi Katolik di Lebak. 

Keuskupan Bogor hanya mengganti pihak pengelola Rumah Sakit. Misi Katolik berupa Rumah Sakit Katolik, Sekolah Katolik dan paroki tetap berjalan di Lebak, bahkan semakin berkembang lebih baik karena pada saat ini dijalankan oleh pihak awam yang profesional”.

Untuk tidak menjadi ruang bertanya, apa saja refleksi dari kedua imam keuskupan Bogor yang ditujukan untuk Uskup mereka, Paskalis, berikut akan diperlihatkan lima (5) poin yang diutarakan oleh Rm Guntur dan Rm Natet. 

Secara eksplisit di dalam surat itu mereka mengatakan: lima (5) noda yang mengotori keuskupan kami yang tercinta. 

1. Uskup adalah simbol perpecahan diantara para imam dan umat. 

2. Abuse of power dari Bapa Uskup. 

3. Semangat penghancuran misi katolik: sebuah kontradiksi. 

4. Figur uskup yang adalah manajer bukan gembala. 

5. Sebuah kehancuran dari dalam? Undangan untuk tidak selamat sendiri-sendiri. 

Inti dari tuduhan mereka demikian: Paskalis adalah PENGHANCUR KEUSKUPAN BOGOR. Lantas bagaimana cara menyelamatkan keuskupan ini? Caranya tidak lain adalah Paskalis harus dikirim pulang ke ordonya.

Kalau kita serius mempelajari refleksi ini, ada banyak hal yang bisa tersingkapkan dari kisruh di Keuskupan Bogor. 

Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, berbagai isu atau gosip atas Paskalis bermula saat dia ditunjuk menjadi Kardinal. 

Dan poin dari tuduhan-tuduhan itu hampir sama seperti yang saat ini dituliskan dan dipublikasi oleh kedua Pembina seminari Bogor ini (Kecuali ada satu yang hilang: tuduhan atas keterlibatan Paskalis pada kasus pedofilia di paroki Depok). 

Selama ini tuduhan-tuduhan itu hanya berseliweran di pesan-pesan WA. 

Dan oleh kedua imam Projo Bogor ini tuduhan dan gosip-gosip itu ‘SECARA RESMI’ di-publik-kan. 

Mereka tampaknya berusaha menciptakan kekisruhan di keuskupan Bogor. Dan mereka berhasil. Kekisruhan itulah yang membuat Vatican mulai ‘mengawasi’ keuskupan Bogor selama beberapa waktu.

Kita dapat membayangkan bagaimana tuduhan-tuduhan itu berevolusi dan ditafsirkan bermacam-macam dari Oktober 2024 sampai pada Desember 2025. 

Pertanyaannya: siapa sesungguhnya ‘pemain catur’ yang menggerakkan langkah kedua ‘pion yang malang’ ini? 

Bagaimana mungkin kedua pembina seminari Tinggi ini menjadi yang pertama mengutuk noda uskupnya sendiri (Baca tanggapan atas ‘refleksi kedua imam projo’ ini yang ditulis oleh Don Bosco Doho di kompasiana pada 3 desember 2026). 

Belakangan juga ketahuan ternyata ada pihak-pihak tertentu di internal keuskupan Bogor yang melarang kedua ‘pion malang’ ini untuk TIDAK menandatangani surat klarifikasi bersama Bapa Uskup. 

Sekali lagi, apakah lingkaran dalam yang makan dan se-hidangan dengan Paskalis juga ikut terlibat dalam permainan ini? 

Kita tidak tau persis. Sampai ada cukup bukti untuk itu kita tidak boleh menuduh siapa-siapa. 

Kembali ke pion-pion malang lainnya: suster-suster SFS. Barang kali mereka tidak pernah berpikir bahwa masalah domestik ‘rumah tangga’ mereka dengan Paskalis berakhir dengan ‘pemaksaan’ terhadap Paskalis untuk menolak kardinal dan kemudian ‘pemaksaan’ untuk meninggalkan keuskupan Bogor. 

Atau mungkin juga mereka tidak sadar bahwa ada pihak pihak tertentu yang telah menggunakan masalah ini untuk mendiskreditkan Paskalis: abuse of power, penyelewengan keuangan rumah sakit, penutupan misi katolik di Lebak, strategi penghancuran keuskupan Bogor oleh Paskalis bersama konco-konconya, dan lain-lain. 

Dan dari berbagai tuduhan ini ada juga satu tindakan seorang suster SFS yang juga memunculkan pertanyaan: apakah kongregasi suster ini (yang mana ketaataan mereka yang mutlak adalah terhadap Uskup Bogor) juga ikut bermain api di dalam masalah ini? 

Diketahui bahwa ada seorang suster SFS yang masih memegang rekening keuangan dan memantau aliran dana Rumah Sakit Lebak sampai pengurus yang baru menyadari itu dan memblokirnya pada Februari 2025. 

Itu berarti suster ini memantau aliran dana rumah sakit selama setahun meskipun mereka sudah pergi dari Lebak pada April 2024. 

Lantas, apa motivasi suster tersebut? Mengapa ia tidak memberikan rekening kepada Keuskupan? Keuskupan yang kecolongan atau susternya yang terlalu canggih? 

Tidak ada yang tahu. 

Apakah suster ini atau kongregasinya juga terlibat dalam permainan ini? 

Juga tidak ada yang tahu. 

Dari semua keributan ini, muncul pertanyaan: mengapa orang-orang ini begitu tanpa belaskasihan menyerang Paskalis? 

Belakangan juga ketahuan dari ‘sumber terpercaya’ ternyata Paskalis selama ini memang melakukan misi bersih-bersih baik di rumah sakit maupun di sekolah-sekolah keuskupan. 

Bayangkan berapa banyak uang yang didapatkan oknum-oknum tertentu dari bisnis obat di apotek dan di Rumah Sakit. 

Ada yang mengatakan uang bagi hasil komisi itu pernah membiayai anggota keluarga dari salah satu pembina Rumah Sakit untuk berziarah ke Eropa. 

Juga salah satu kongregasi suster ikut menikmati uang bagi hasil komisi tahunan itu untuk membiayai rumah sakit mereka di Jawa. 

Yang dilakukan Paskalis adalah mengembalikan uang hasil komisi dari bisnis obat itu ke kas keuskupan di mana selama bertahun-tahun dinikmati oleh oknum-oknum tertentu, baik orang awam maupun kaum berjubah. 

Tidak hanya itu beberapa proyek (bisnis) keuskupan juga selama ini secara diam-diam dijalankan oleh keluarga dari beberapa pastor. 

Jadi ketika sumber kehidupan mereka dipotong oleh Paskalis, sudah pantas dan selayaknya semuanya berteriak. 

Mungkin juga indikasi-indikasi ini bisa menjadi titik berangkat untuk melanjutkan misi ‘bersih-bersih’ Paskalis di Keuskupan Bogor di masa yang akan datang, meskipun dia sudah akan pergi dari Bogor. 

Mengapa Paskalis harus pergi dari Bogor? 

Mengapa ada oknum yang ‘memaksa’ Paskalis untuk mundur dari Kardinal dan dari Uskup Bogor? Apakah isu-isu miring tersebut, yang oleh kedua imam keuskupan Bogor dilihat sebagai 5 noda yang mengotori keuskupan, benar-benar menjadi alasan utama mereka meminta (mungkin lebih tepatnya ‘mamaksa’) Paskalis untuk menolak jabatan kardinal dan melepaskan jabatan Uskup? Apakah mereka juga sudah menyiapkan sebuah skenario pengganti Paskalis? 

Ada orang dekat Paskalis yang mengatakan demikian: Kekisruhan yang melibatkan Paskalis disebabkan oleh Paus Fransiskus. 

Dia yang harus bertanggung jawab. Kalau saja Paus Fransiskus tidak menunjuknya sebagai Kardinal, mungkin gelombang serangan terhadap Paskalis tidak sedasyat seperti tsunami yang menghanyutkan dirinya. 

Mungkin ada gelombang serangan, tetapi mungkin masih bisa diatasi. Yang tadinya cuma ‘riak-riak air’ di cangkir minum Paskalis kini berubah menjadi tsunami besar yang membunuh dirinya. 

Paskalis menjadi musuh bersama, baik dari lingkaran dalam keuskupan sendiri maupun pihak-pihak luar yang menginginkan jabatan dan kekuasaan. 

Gelombang besar ini sebenarnya bisa teratasi! Sudah sejak tahun lalu, Paskalis sebenarnya berusaha mengklarifikasi berbagai isu atau gosip tentang dirinya.

Misalnya, salah satu isu yang paling santer terdengar pada saat dirinya ditunjuk sebagai Kardinal adalah kasus pedofilia yang dilakukan seorang bruder di Depok, Keuskupan Bogor. 

Paskalis dituduh telah menyembunyikan dan melindungi pelaku pedofilia. 

Pihak-pihak itu menggunakan kasus ini untuk menjerat Paskalis. Mereka membuat narasi sedemikian rupa seolah-olah Paskalis terlibat di dalam skandal pedofolia ini. 

Dan dari orang dekat Paskalis diceritakan bahwa beberapa oknum (musuh-musuh Paskalis) membawa kasus ini sampai ke Vatican: Mereka melaporkan ke Vatikan bahwa Paskalis terlibat di dalam kasus pedofilia yang mengerikan di mana telah mencoreng wajah gereja Indonesia karena telah menjadi berita nasional. 

Kira-kira beginilah narasi yang hendak dibentuk: Bagaimana mungkin seorang ‘kardinal terpilih’ terlibat di dalam skandal pedofilia? Kita tidak tahu apakah Vatican mempercayai laporan ini atau tidak. 

Yang pasti bahwa Paskalis ‘diminta’ (sebenarnya dipaksa) untuk mundur dari kardinal. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Paskalis sama sekali tidak terlibat di dalam kasus pedofilia ini. Dia juga tidak menyembunyikan kasus ini. 

Paskalis sendiri justru yang berinisiatif dan mendorong agar kasus ini dibawa ke ranah hukum. Majalah Tempo kemudian membuat laporan khusus atas masalah ini dan secara khusus mewawancarai Paskalis (Tempo, 31 Agustus 2020). 

Secara perlahan-lahan tuduhan atas Paskalis yang telah melakukan persekongkolan dengan pelaku pedofilia menghilang dengan sendirinya. 

Di dalam deklarasi 5 noda keuskupan Bogor yang ditulis oleh Rm. Guntur dan Rm. Natet tuduhan ini benar-benar menghilang karena memang terbukti tidak benar adalnya. 

Dari orang dekat Paskalis juga diketahui bahwa Paskalis sebenarnya telah mengklarifikasi dan menjelaskan berbagai tuduhan atau isu-isu miring atas dirinya. Tetapi apakah klarifikasi itu sampai di Vatikan atau hanya sampai di Jakarta Pusat, kita semua tidak tahu persis. 

Yang kita tahu persis adalah bahwa Paskalis telah berusaha sedemikian rupa menepis isu miring atas dirinya. Apa buktinya?  

Ke Roma Pakai Visa Perancis 

Perjuangan Paskalis untuk menepis isu miring atas dirinya dilakukannya sampai di Roma. Dari orang dekatnya diceritakan bahwa pada November Paskalis telah mengajukan Visa Italia dengan Invitation Letter dari Vatican. 

Mereka menunggu Visa Italia hampir 2 bulan. Tetapi sampai Desember Visa nya tak kunjung datang. Merasa ada yang aneh dan tidak normal, Paskalis kemudian memutuskan menarik kembali pasportnya. 

Dia memutuskan, dengan bantuan seorang umat awam yang baik, untuk membuat Visa Perancil. Dan tidak perlu menunggu lama, hanya 3-4 hari, Visa Perancis untuk Paskalis diterbitkan pada awal Januari 2026. 

Dengan segera ia terbang ke Roma menggunakan Visa Perancis.

Selama di Roma dia bertemu dengan beberapa orang, termasuk bertemu dengan Paus. Tetapi dari pertemuan-pertemuan itu tampaknya ia mendapat informasi bahwa ‘sudah ada keputusan atas dirinya’. Ia terlambat. Tidak ada lagi jalan.

Ia sendiri menerima keputusan itu. Tanpa protes. Meskipun marah karena diperlakukan secara tidak adil, ia tetap menerima keputusan itu. 

Dua belas tahun (12 tahun) menjadi uskup Bogor adalah pengalaman berharga untuk hidup Paskalis. Toh jabatan uskup bukan obesesi dari dirinya. Itu adalah jabatan yang diberikan. 

Ketika jabatan itu diambil darinya, ia juga merasa tidak berkeberatan karena memang bukan kepunyaannya. Sama seperti ketika mereka memintanya untuk melepaskan jabatan kardinal, saat ini mereka juga memintanya (‘memaksa’) untuk melepaskan jabatan uskup Bogor. 

Seperti seorang serdadu yang memegang teguh ketaatan: Paskalis dengan taat melepaskan Jabatan Uskup Bogor. 

Dari proses pengurusan visa ini kita bisa melihat bagaimana permainan ini tidak lagi dimainkan melalui bidak-bidak catur yang kecil. 

Permainan ini sudah naik ke fase yang lebih tinggi. Dua kuda dan dua peluncur (gajah) sekarang bermain. Dan ini hanya bisa dimainkan oleh orang orang yang berkuasa. 

Kalau seandainya Paskalis bisa menerima Visa Italia pada bulan November dan setelahnya langsung terbang ke Roma mungkin ceritanya akan lain. 

Mungkin ia bisa mengklarifikasinya lebih awal sehingga tidak terjadi salah paham mengenai berbagai isu miring yang menyerang dirinya. 

Dan permainan catur ini semakin serius ketika selama di Roma ia diawasi dan dibatasi pergerakannya.

Dia benar-benar diperlakukan sebagai narapidana atas kasus yang oleh dia sendiri belum bisa dimengerti. Game is over. 

Sentimen Anti-Flores?

Di masa lalu sudah pernah terjadi hal yang serupa di Bogor meskipun tidak berakhir dengan ‘pencopotan’. 

Uskup Michael Cosmas Angkur pernah mengalami hal yang sama. Menurut tutur lisan dari beberapa saksi hidup dan mereka yang dekat dengan Uskup Angkur, penunjukan beliau sebagai uskup Bogor menimbulkan berbagai gejolak dan polemik di lingkaran dalam keuskupan. 

Pada saat Vatikan menunjuk Michael Angkur, beberapa oknum petinggi gereja datang menjumpai Uskup Michael dan memintanya untuk menolak penunjukan itu. 

Mereka tidak setuju Michael Angkur, yang saat itu ex-provinsial fransiskan Indonesia, menjabat sebagai uskup Bogor. 

Bagaimana mungkin orang Flores bisa menjadi uskup Bogor. 

Dan puncak dari penolakan itu terjadi pada saat Tahbisan Uskup, di mana panitia tidak menulis nama Mgr. Michael Cosmas Angkur sebagai uskup Bogor. 

Di undangan hanya tertulis: Undangan Tahbisan Uskup Bogor.

Tidak ada nama imam yang akan ditahbiskan. Siapa itu uskup Bogor? 

Dalam sebuah biografi yang ditulis oleh Bobby A. Mgr. Michael Cosmas Angkur OFM: Pemimpin Sederhana, Banten: Konsultan Media, 2014, digambarkan reaksi dari P. Alfons Suhardi OFM atas peristiwa tersebut. 

“Surat itu (undangan tanpa nama itu) merupakan simbol dari penolakan penunjukan Pastor Mikael sebagai uskup Bogor. ‘Ini bukan kesalahan teknis tetapi merupakan kesalahan kolosal yang menolak dia.’ … Bagaimana mungkin undangan tahbisan tanpa nama imam yang ditahbiskan, padahal undangan sunatan saja ada nama anak yang dikhitankan”. 

Menurut Pastor Suhardi, penunjukan Michael sebagai uskup Bogor memang mengejutkan banyak Pihak. 

Terlebih pada saat itu banyak pihak yang menjagokan Pastor Valentinus Kartosiswoyo, Pr, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif KWI, Dosen, dan berasal dari Jawa Tengah. 

Terlebih lagi selama satu tahun Pastor Kartosiswoyo juga sudah menjabat sebagai Vikjen di Keuskupan Bogor di mana jabatan ini dianggap sebagai masa persiapan untuk jabatan uskup selanjutnya menggantikan Mgr. Harsono. Akan tetapi Vatican memilih orang lain.

Uskup Michael dan Uskup Paskalis sama-sama berasal dari Flores. Keduanya sama-sama mengalami penolakan dari imam-imamnya. 

Mungkin yang membedakan keduanya adalah Uskup Michael tidak pernah ditunjuk sebagai kardinal sedangkan Uskup Paskalis pernah ditunjuk sebagai kardinal. 

Dan gelombang besar penolakan dan permusuhan atas Paskalis justru bermula dari penunjukannya sebagai kardinal.

Pertanyaannya adalah apakah kasus Paskalis bisa dianggap sebagai episode kedua dari sentimen primordialisme budaya di keuskupan Bogor?

Jika percobaan pertama untuk Uskup Mikhael tidak berhasil, barang kali setelah perencanaan yang matang percobaan kedua untuk Paskalis berhasil dengan sangat maksimal: sebagai kardinal dan sebagai uskup Bogor. 

Akan tetapi, jika hipotesis ini benar, apakah gereja kita di masa yang akan datang masih tetap berada di bawah bayang-bayang primordialisme budaya seperti ini? 

Surat Cinta Terakhir

Pada 8 Desember 2025, Paskalis telah mengumumkan anggota Kuria Keuskupan yang Baru. Dan tentu saja hal itu normal sebagai bentuk otonomi seorang uskup di keuskupannya.

Akan tetapi beberapa hari kemudian beberapa ‘pihak luar’ (otoritas gereja) meminta Paskalis untuk membatalkan penetapan Kuria Baru itu. 

Dan hal ini justru menimbulkan berbagai polemik dan gonjang-ganjing di tengah-tengah umat dan di antara para imam sendiri. Untuk itu, menjelang Natal, pada ada 24 desember 2025 ia menulis sebuah surat untuk umatnya di keuskupan Bogor. 

Surat itu ditulis untuk mengajak umat untuk tidak perlu merasa khawatir dengan situasi di ‘Rumah keuskupan’ Bogor.

Paskalis menulis sebuah surat yang berjudul: ‘Surat Cinta Gembala bagi Domba-Domba’. 

Yang bagi kami lebih menarik adalah bagian terakhir dari surat cinta itu. Ditulis demikian oleh Uskup Paskalis:

“Jangan pernah menjadi takut. Tuhan kita baik, banyak orang baik meski ada juga yang jahat”. 

Banyak orang baik meski ada juga yang jahat. Paskalis rupanya sudah sadar ternyata tidak semua orang di sekitarnya itu baik. 

Tetapi kesadaran ini sudah terlambat. Sama seperti ia terlambat datang ke Roma, begitupun ia terlambat menyadari ternyata musuh-musuhnya sudah lama ada bersamas dia. 

Tusukan keris nya sudah sampai di jantung Paskalis. 

Game is over. 

Note:Ditulis oleh seseorang yang tak mau disebutkan namanya.

COMMENTS

Entri yang Diunggulkan

Terungkap Modus Eks Pejabat BNI Tilap Rp28 M Tabungan Umat Paroki Aek Nabara

Modus penggelapan dana umat paroki Aek Nabara, Sumut. SIANAKAREN.COM -- Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumatera Utara membeberkan ...

Nama

4 Wanita Pesta Miras,1,Ade Chaerunisa,1,Adonara,1,Advetorial,1,Ahmad Sahroni,1,Aktor Politik,7,Alex Longginus,2,Andreas Hugo Pareira,3,Anggota DPRD TTU,1,Ansar Rera,1,Ansy Jane,1,Ansy Lema,28,Ansy Lema for NTT,3,Apel Hari Pancasila Ende,1,Bandara Ende,1,Bandara Maumere,1,Bank NTT,1,Bapa Sindi,1,Bapa Suci,1,Bayi Menangis,1,Bela Negara,1,Bentrok Antar Gereja,1,Berita Flores,1,Bertrand Peto,1,Bertrand Pulang Kampung,1,Beta Cinta NTT,4,Betrand Peto,1,Bupati Sikka,1,Cafe Alung,1,Calon Gubernur NTT,6,Calon Gubernur PDIP,1,Car Free Night,1,Carlo Ancelotti,1,Catar Akpol Polda NTT,1,Dana Pensiun,1,Danau Kelimutu,1,Danau Tiga Warna,1,Degradasi Pancasila,1,Desa Fatunisuan,1,Doktor Filsafat dari Nagekeo,1,DPD Hanura NTT,1,DPO Kasu Vina,1,DPRD Nagekeo,2,Dr. Sylvester Kanisius Laku,1,El Asamau,1,Elektabilitas Ansy Lema,1,Elon Musk,1,Ende,3,Erupsi Gunung Lewotobi,2,Euro 2024,1,Film Vina,1,Flores,1,Flores NTT,1,Flores Timur,4,GABK,1,Gen Z,1,GPIB,1,Gubenur NTT,1,Gubernur NTT 2024,1,Gugat Cerai,1,Gunung Kelimutu,1,Gunung Lewotobi,2,Guru Remas Payudara,1,Gusti Brewon,1,Hari Lahir Pancasila,1,Hasil Pertandingan Spanyol vs Kroasia,1,Hendrik Fonataba,1,Hukrim,24,Hukum-Kriminal,15,Humaniora,209,Ikatan Dosen Katolik,1,IKDKI,1,Influencer NTT,1,Insight,15,Jadwal Kunjungan Paus Fransiskus,1,Jane Natalia,1,Jual Beli Tanah,1,Kadis Koperasi,1,Kaka Ansy,3,Kakek Sabono,1,Kasus Kriminal di NTT,1,Kata-Kata Elon Musk,1,Kata-Kata Inspiratif,2,Kejati NTT,2,Kekerasan Seksual di NTT,1,Keluarga Onsu,1,Kepsek di Rote Ndao,1,Kepsek di TTU,1,Keuskupan Labuan Bajo,1,Keuskupan Maumere,1,KKB,1,Komodo,1,Komuni Pertama,1,Kongres PMKRI,1,Kontroversi PMKRI,1,Korban Longsor,1,Kota Kupang,1,Kunjungan Paus ke Indonesia,1,Labuan Bajo,1,Ledakan Gas,1,Lemondial Business School,1,Liga Champions,1,Longsor di Ende,1,Longsor di Flores,1,Longsor di Nagekeo,1,Mafia Tanah,1,Mahasiswa Nagekeo,1,Malaysia,1,Mama Sindi,1,Maumere Viral,1,Max Regus,1,Media di NTT,1,Megawati,1,Megawati ke Ende,1,Melki Laka Lena,1,Mesum Dalam Mobil,1,Mgr Ewald Sedu,1,Milenial Sikka,1,MK,1,Model Bali,1,Nagekeo,1,Nasional,46,Nelayan NTT,1,Nenek Tenggelam,1,Nona Ambon,1,NTT,1,Pamulang,1,Panti Asuhan Naungan Kasih,1,Papua,1,Pariwisata,6,Paroki Nangahure,1,Pastor Paroki Kisol,1,Pater Budi Kleden SVD,1,Paulus Budi Kleden,2,Paus Fransiskus,3,Paus Fransiskus Tiba di Indonesia,1,Pegi alias Perong,2,Pegi Setiawan,2,Pekerja NTT di Malaysia,1,Pelaku Penikaman,1,Pemain Naturalisasi,1,Pemerkosaan di NTT,1,Pemerkosaan Guru,1,Penggerebekan,1,Pensiunan Bank NTT,1,perempuan dan anak ntt,1,Perempuan NTT,1,Pertanian NTT,1,Piala Liga Champios,1,Pilgub NTT,23,Pilkada NTT,1,Pj Bupati Nagekeo,2,PMI NTT,1,PMKRI,1,PMKRI Papua,1,Polda NTT,1,Politik,40,Polres Sikka,1,Polresta Kupang Kota,1,Pos Kupang,1,Profil Ansy Lema,1,Putra Nagekeo,1,Putusan MK Terbaru,1,Raimudus Nggajo,2,Raja UCL,1,Rasis NTT,1,Refafi Gah,1,Rekonsiliasi Kasus Pamulang,1,Relawan Bara Juang,1,Remi Konradus,1,Rista,1,Rista Korban Ledakan Gas,1,Romo Gusti,1,Romo Max Regus,1,Rote Ndao,1,Ruben Onsu,2,Sabono dan Nona Ambon,1,Safari Politik Ansy Lema,1,Sarwendah,2,Seleksi Akpol 2024,1,Seminari BSB Maumere,1,Sengketa Lahan,1,Shayne Pattyanama,1,Sikka,1,Sis Jane,1,Solar Panel Listrik,1,Spanyol vs Kroasia,1,Status Gunung Kelimutu,1,STF Driyarkara,1,Sumba,1,Sumba Tengah,1,Survei Ansy Lema,1,Survei Charta Politika,1,Survei Indikator Politik,1,Susana Florika Marianti Kandaimau,1,Suster Inosensi,1,Tanah Longsor,1,Tenaga Kerja NTT,1,Tersangka EP,1,Timor Express,1,TPNPM-OPM,1,TTU,2,Universalia,3,Untar,1,Uskup Agung Ende,3,Uskup Baru,3,Uskup Labuan Bajo,2,Uskup Maumere,1,Uskup Max Regus,1,Veronika Lake,1,Video Panas,1,Vina Cirebon,2,Viral NTT,1,Wanita Open BO,1,Yohanis Fransiskus Lema,10,
ltr
item
Si Anak Aren: Mgr. Paskalis: dari Konflik Internal hingga Sentimen Anti-Flores
Mgr. Paskalis: dari Konflik Internal hingga Sentimen Anti-Flores
Mgr. Paskalis Bruno Syukur mengundurkan diduga karena konflik internal keuskupan Bogor dan sentimen anti-Flores di keuskupan Bogor.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRZUhPKCMVieI5V0_DmhCD5P7Y4nmlAftyjFGCg4kc4CisHPMAr8oV8o-AZ6bYIxCjAWlRngywRVFJVW1i8uw3dIx9d5_Jl5rqmVD1zFK0C8P30nocyFZgjLzWxbRfeb1mKCAVySfilDHBKGqKnNoferw8QLYDvpWsseiI7V7z547Cbg8JjZAkPNZL7Z8/w650-h407/Mgr.%20Paskalis_%20dari%20Konflik%20Internal%20hingga%20Sentimen%20Anti-Flores.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRZUhPKCMVieI5V0_DmhCD5P7Y4nmlAftyjFGCg4kc4CisHPMAr8oV8o-AZ6bYIxCjAWlRngywRVFJVW1i8uw3dIx9d5_Jl5rqmVD1zFK0C8P30nocyFZgjLzWxbRfeb1mKCAVySfilDHBKGqKnNoferw8QLYDvpWsseiI7V7z547Cbg8JjZAkPNZL7Z8/s72-w650-c-h407/Mgr.%20Paskalis_%20dari%20Konflik%20Internal%20hingga%20Sentimen%20Anti-Flores.jpg
Si Anak Aren
https://www.sianakaren.com/2026/01/mgr-paskalis-dari-konflik-internal-hingga-sentimen-anti-flores.html
https://www.sianakaren.com/
https://www.sianakaren.com/
https://www.sianakaren.com/2026/01/mgr-paskalis-dari-konflik-internal-hingga-sentimen-anti-flores.html
true
135189290626829409
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy