Praka Satria Tino Taopan (29) gugur dalam kontak senjata dengan KKB pada 8 Januari 2026 dengan mimpi pernikahan yang dibawa pergi ke pangkuan Ilahi.
![]() |
| Alm. Praka Satria Taopan. |
[Obituari alm. Praka Satria Taopan]
Ayahanda, Dominggus Taopan masih mengingat jelas pesan putranya di ujung telepon saat Hari Raya Natal, 25 Desember 2025 lalu. Usai keluar dari gereja, Praka Satria Tino Taopan (29) menelepon kedua orangtuanya dari tanah Papua ke Kota Kupang.
Sebuah berita yang mengejutkan tentang niatnya untuk menikahi seorang gadis di Kupang.
Rencananya akan berlangsung pada bulan Juni 2026.
Biasanya memasuki musim panas baru diadakan karena periode liburan sehingga banyak sahabat kenalan dan keluarga yang berkumpul merayakan kebahagiaan pernikahannya.
“Setelah keluar gereja, bapak dan mama harus ketemu orangtua calon istri. Rencana nikah bulan Juni 2026,” kenang sang ayah menirukan kata-kata ananda.
Bagi Dominggus, itu adalah percakapan batin seorang anak dengan sang ayah yang harus dipersiapkan.
Dengan usia yang sudah matang dan berprofesi sebagai TNI, ia berpikir bahwa inilah saatnya anaknya itu membangun rumah tangga baru.
Seminggu setelah Tahun Baru 2026, ia dan sang istri justru menerima kabar buruk.
Anaknya gugur dalam kontak tembak dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Yomugaru, Papua Pegunungan, Kamis (8/1/2026).
Insiden tragis ini terjadi saat bertugas di Kampung Tetmid, Kabupaten Nduga.
Kontak senjata pecah antara Satgas Yonif 100/PS dengan KKB. Praka Satria mengalami luka tembak di dada tembus punggung, senjatanya ikut dirampas.
Praka Satria Taopan sendiri merupakan anggota Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia (Yonif 100/PS) Kodam I/Bukit Barisan dengan NRP 31180695780996, bertugas sebagai Tamudi/Pool 3 Ton Ang Kima.
Prajurit kelahiran Erbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang ini resmi menjadi prajurit TNI AD tahun 2018 setelah melalui seleksi sembilan kali.
Ia pernah bertugas di pasukan perdamaian PBB di Kongo selama satu tahun.
Ke Papua, Satria dan prajurit lainnya mendapat mandat mengamankan situasi konflik akibat gerakan separatisme OPM melalui mesin militernya KKB.
Satria bukan orang pertama NTT yang gugur di medan tugas di Papua.
Sebelumnya ada anggota Brimob asal Ngada yang juga gugur beberapa bulan sebelum Natal yang mana ia janjikan untuk pulang liburan di rumah keluarga.
Setelah mendengar kabar duka dari tanah Papua, orangtua almarhum pun langsung mempersiapkan penyambutan jenazah agar dikuburkan di kampung halaman.
Di rumah duka, Dominggus dan sang ibu serta keluarga besar duduk menahan air mata. Dominggus mengenang anak sulungnya yang sejak kecil dibesarkan dalam disiplin doa.
Setiap pagi, keluarga Taopan memulai hari dengan doa bersama. Kebiasaan itu terbawa hingga Praka Satria bertugas jauh di Papua.
Ibunya sering mengirimkan kutipan Firman Tuhan setiap pagi kepada almarhum dan adiknya yang saat ini menjadi anggota polisi di Ruteng, Manggarai.
Anak pasangan Dominggus Taopan dan Dorkas Yohana ini dikenal ramah serta mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Ia pun berbakti pada orangtua. Tidak melakukan hal yang aneh-aneh.
Namun, Kamis pagi itu berbeda. Pesan sang ibu tak kunjung dibalas. Sekitar pukul 08.00 Wita, kabar duka mulai berembus, tetapi sang ayah belum percaya.
Hingga akhirnya, telepon dari anak bungsunya yang polisi membuat dunianya seakan runtuh.
Kabar serupa datang dari rekan satu batalion Praka Satria.
Dominggus saat itu sedang berada di tempat kerjanya di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Provinsi NTT. Tangis di ujung telepon menjadi bukti yang tak terbantahkan.
Keyakinannya perlahan runtuh ketika dijelaskan bahwa jenazah Praka Satria telah dievakuasi ke pos terdekat dan menunggu helikopter dari Timika.
Praka Satria tertembak di bagian leher dalam kontak senjata tersebut. Evakuasi berlangsung penuh tantangan. Cuaca buruk dan kondisi keamanan memaksa jenazah Praka Satria dipikul berjalan kaki sekitar lima kilometer menuju pos sebelum diterbangkan ke Timika.
Dari sana, jenazah diterbangkan ke Makassar, kemudian Surabaya, dan dijadwalkan tiba di Kupang hari Jumat ini sekitar pukul 19.00. Kabarnya jenazah almarhum sudah tiba di Kota Kupang malam ini.
Di rumah duka, doa-doa terus mengalir. Mereka berjaga semalam suntuk. Siap menjemput jenazah sang prajurit yang tak lelah mencari dan menemukan cita-citanya.
Rencana pernikahan yang sempat diucapkan pada hari Natal kemarin kini tinggal kenangan bagi sang pujaan hati dan orang tua.
Janji yang disampaikan kepada sang kekasih kini tersimpan di relung jiwa hingga nanti mereka dipertemukan kembali dalam kebahagiaan abadi sebagai anak-anak Allah.
Ia pulang bukan hanya sebagai pahlawan yang mengorbankan hidupnya untuk pertiwi.
Ia menghadap "Sang Mempelai Abadi" yang telah menyediakan pelaminan kekal untuknya.
Ia beralih dari dunia yang fana penuh perjuangan lahiriah menuju kenikmatan surgawi, tempat dimana orang-orang sepertinya mendapatkan keselamatan.
Mengenang sang putra pejuang itu membuat hati orangtuanya hancur.

COMMENTS