Labuan Bajo selama ini dipromosikan sebagai destinasi eksklusif sehingga cenderung mengabaikan kearifan lokal yang menyimpan potensi ekonomi.
SIANAKAREN.COM -- Labuan Bajo selama ini dipromosikan sebagai destinasi eksklusif dengan citra kapal pinisi mewah, pulau eksotis, dan panorama premium. Namun, promosi semacam ini cenderung menempatkan masyarakat lokal hanya sebagai latar, bukan subjek utama pembangunan.
Padahal, kearifan lokal masyarakat Manggarai menyimpan potensi ekonomi dan pembangunan manusia yang jauh lebih berkelanjutan jika diangkat dengan pendekatan yang lebih relevan dengan zaman ini.
Inovasi promosi pariwisata Labuan Bajo seharusnya bergeser dari sekadar menjual pemandangan menjadi menawarkan pengalaman hidup lokal.
Salah satu ide yang masih jarang disentuh adalah “Pariwisata Partisipatif Berbasis Narasi Lokal”, yaitu konsep wisata di mana wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi ikut terlibat dalam ritme kehidupan masyarakat setempat.
Misalnya, wisatawan diajak mengikuti proses tenun Manggarai dari awal, memahami filosofi motifnya, hingga berdialog langsung dengan penenun sebagai bagian dari cerita budaya, bukan sekadar membeli produk jadi.
Dalam konteks ekonomi, pendekatan ini membuka sumber pendapatan yang lebih merata.
Nilai ekonomi tidak lagi terkonsentrasi pada pemilik kapal wisata atau hotel besar, tetapi menyebar ke rumah tangga lokal, pengrajin, petani, dan komunitas adat.
Promosi digital berbasis cerita seperti micro-documentary, podcast lokal, atau short-form storytelling di media sosial dapat menjadi alat promosi yang efektif sekaligus murah, karena menonjolkan keaslian, bukan kemewahan buatan.
Dari sisi pembangunan manusia, promosi pariwisata berbasis kearifan lokal mendorong peningkatan kapasitas masyarakat. Anak muda Labuan Bajo tidak hanya diposisikan sebagai pekerja sektor jasa, tetapi sebagai kurator budaya, pencerita lokal, dan inovator konten.
Pelatihan literasi digital, manajemen budaya, dan bahasa asing berbasis konteks lokal akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia tanpa memutus akar identitasnya.
Pendekatan ini juga relevan dengan tren wisata global saat ini yang semakin mengarah pada meaningful tourism wisata yang memberi makna, bukan sekadar konsumsi visual.
Dengan menempatkan kearifan lokal sebagai inti promosi, Labuan Bajo dapat berkembang bukan hanya sebagai destinasi kelas dunia, tetapi sebagai ruang belajar tentang hubungan manusia, budaya, dan alam.
Pada akhirnya, promosi pariwisata Labuan Bajo yang berbasis kearifan lokal bukanlah langkah mundur, melainkan strategi maju yang lebih tahan lama.
Ketika masyarakat lokal tumbuh bersama pariwisata, maka pendapatan ekonomi meningkat seiring dengan pembangunan manusia yang berakar pada jati diri budaya.*
Oleh: Bran Villar Gultom, mahasiswa Semester 1 STIMPAL Lemondial.

COMMENTS