Masih tersisa satu korban kapal tenggelam KM Sakinah yang masih hilang dari empat penumpang yang dinyatakan meninggal dunia.
![]() |
| Anak pelatih Valencia putri. |
SIANAKAREN.COM -- Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban kecelakaan kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, resmi diperpanjang selama dua hari lagi hingga Jumat (9/1).
Pengumuman ini disampaikan pada Kamis (8/1) setelah temuan tiga jenazah warga negara Spanyol (WNA) pada 26 Desember 2025, dengan satu korban WNA Spanyol lainnya masih belum ditemukan.
Perpanjangan ini didasarkan pada dua hal utama: masih adanya satu korban hilang dan permintaan resmi dari Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta.
Tim SAR gabungan yang melibatkan 168 personel dari Basarnas, TNI AL, Polri, serta relawan lokal kini fokus pada area pesisir Pantai Pede, Pulau Komodo, di mana bangkai kapal terdeteksi.
Mereka mengerahkan 18 alat utama, termasuk kapal penyelam, drone bawah air, dan helikopter, untuk menyisir perairan hingga pulau-pulau kecil di sekitar Labuan Bajo.
Kronologi Tragedi KM Sakinah
Kecelakaan maut ini bermula pada Jumat (26/12/2025) sekitar pukul 24.00 Wita, ketika KM Putri Sakinah—kapal wisata berkapasitas 50 penumpang—tenggelam akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi di perairan Pulau Padar.
Kapal ini mengangkut 11 penumpang, yang terdiri empat ABK dan tujuh penumpang.
Dari tujuh penumpang ada enam warga negara Spanyol dan satu pemandu wisata WNI, termasuk pelatih putri Valencia, Fernando Martin Carreras.
Insiden ini menelan tiga korban jiwa, dan satu anak Fernando masih dalam pencarian.
Istri dan satu anaknya selamat yang bungsu berhasil selamat.
Disebutkan bahwa ketika musibah datang, istri Fernando dan putrinya berada di luar kabin, sedangkan Fernando dan ketiga anaknya berada di dalam kamar.
Penyebab utama diduga kombinasi angin kencang dan mesin mogok, meski investigasi resmi masih berlangsung.
Pada Jumat pagi (26/12), sebetulnya kondisi cuaca bagus. Sekitar 188 kapal melintas dari Pelabuhan Labuan Bajo.
Namun, sebelumnya sudah ada peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang potensi badai di selatan yang bisa terjadi.
Hingga sore harinya, sekitar pukul 15.30 WITA, seorang pegiat lingkungan lokal melihat awan gelap ke arah Taman Nasional Komodo dari dek rumahnya di sebuah kapung nelayan, Labuan Bajo.
Pagi harinya pada 27 Desember 2025, operasi SAR langsung digerakkan untuk mencari korban.
Riwayat Penemuan Jenazah
Sejak hari pertama, SAR telah berhasil menemukan sejumlah jenazah dan korban selamat:
- 29 Desember 2025: Tim SAR menemukan satu jenazah dengan jenis kelamin perempuan yang merupakan anak Fernando.
- 4 Januari 2026: Jasad Fernando ditemukan.
- 6 Januari 2026: Jasad anak laki-laki Fernando ditemukan
Hingga kini, korban jiwa sementara mencapai 4 orang, dengan 1 masih dalam status hilang.
Operasi awal sempat dibatasi pada 7 Januari karena cuaca, tapi diperpanjang berkat dukungan teknologi canggih.
Otoritas setempat menekankan komitmen penuh untuk operasi ini, sambil menyelidiki kelalaian operator kapal.
Wisatawan diminta waspada terhadap cuaca di wilayah Komodo, yang dikenal rawan bencana laut.
Setidaknya dalam dua tahun terakhir, terdapat delapan kecelakaan kapal di sejumlah lokasi di sekitar Labuan Bajo.*

COMMENTS