Perselingkuhan seringkali dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: percakapan yang terlalu dekat, perhatian yang melampaui batas tanpa ikatan.
![]() | |
| Aprianus Gregorian Bahtera/Dok. pribadi. |
Oleh: Aprianus Gregorian Bahtera
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira Kupang
Perselingkuhan seringkali dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: percakapan yang terlalu dekat, perhatian yang perlahan melampaui batas, atau perasaan nyaman kepada seseorang yang bukan pasangan.
Pada awalnya, semuanya mungkin dianggap tidak berbahaya karena belum ada hubungan yang benar-benar terlihat. Namun, kedekatan yang terus dipelihara dapat berubah menjadi pengkhianatan terhadap kepercayaan.
Di sinilah perselingkuhan menunjukkan sisi manusia yang rumit, sebab seseorang dapat mengaku mencintai pasangannya, tetapi pada saat yang sama memilih menyembunyikan sesuatu darinya.
Dalam kehidupan manusia, cinta tidak hanya dibangun oleh perasaan, tetapi juga oleh kejujuran dan tanggung jawab.
Perselingkuhan memperlihatkan bahwa perasaan tanpa komitmen dapat kehilangan arah. Seseorang mungkin beralasan bahwa dirinya menemukan bahwa dirinya menemukan kenyamanan yang tidak diperoleh dari pasangan tetapi alasan tersebut tidak serta merta membenarkan pengkhianatan.
Jika sebuah hubungan memang sudah tidak dapat dipertahankan kejujuran seharusnya menjadi jalan yang lebih bermartabat daripada mempertahankan hubungan sambil diam-diam membangun hubungan lain.
Perselingkuhan juga meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat. Yang hancur bukan hanya hubungan antara dua orang, melainkan kepercayaan yang sebelumnya dibangun melalui waktu, usaha, pengorbanan, pengertian dan pengalaman bersama.
Seseorang yang dikhianati dapat mulai mempertanyakan dirinya sendiri, apakah dirinya kurang baik, kurang menarik, atau tidak cukup dicintai? Padahal, keputusan seseorang untuk berselingkuh tidak otomatis menjadi ukuran nilai dirinya sebagai pasangan. Kesalahan memilih untuk mengkhianati tetap merupakan tanggung jawab orang yang melakukan pengkhianatan tersebut.
Dalam perspektif sastra, perselingkuhan menarik karena tidak selalu menghadirkan tokoh yang sepenuhnya bai atau sepenuhnya jahat. Di balik tindakan tersebut terdapat manusia dengan kelemahan, keinginan, kebingungan, dan pilihan moralnya sendiri.
Sastra dapat membawa pembaca masuk ke dalam pikiran orang yang berselingkuh sekaligus sekaligus merasakan luka orang yang dikhianati. Dengan demikian, sastra tidak harus membenarkan perselingkuhan, tetapi dapat membantu kita memahami mengapa manusia melakukan kesalahan dan bagaimana Kesalahan itu berdampak harus berdampak kepada orang lain.
Perselingkuhan bukan sekadar kisah tentang hadirnya orang ketiga, melainkan tentang hilangnya kejujuran di antara dua manusia.
Cinta mungkin membuat seseorang merasa bahagia, tetapi hanya kejujuran dan tanggung jawab yang membuat hubungan dapat bertahan. Oleh karena itu, ketika cinta sudah tidak lagi memiliki tempat di dalam hati, mengatakan kebenaran jauh lebih manusiawi daripada menciptakan kebahagiaan baru di atas luka orang lain.
Sebab dalam sebuah hubungan, yang paling menyakitkan bukan selalu kehilangan cinta, melainkan mengetahui bahwa kepercayaan yang diberikan dengan tulus telah dikhianati.*


COMMENTS