Medsos yang pada hakikatnya menjadi sarana edukasi dan komunikasi yang sehat justru telah mengalami pergeseran fungsi dan menjadi ruang yang rentan.
![]() |
| Fr. Ando Loi, OCD. |
Oleh: Fr. Ando Loi, Pr
Mahasiswa FFA Unwira Kupang
Fenomena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada era kontemporer ini mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Kemajuan ini didukung oleh hadirnya jaringan internet dan platform media sosial (medsos) yang membuka ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan berbagai pendapat, menyebarkan informasi, serta membangun relasi tanpa batas geografis.
Dalam konteks ini, internet dan medsos dipandang sebagai motor penggerak yang signifikan terhadap dinamika kehidupan masyarakat.
Menurut Santoso S. Hamijaya, media sosial merupakan semua bentuk perantara yang dipakai orang untuk menyampaikan ide, sehingga ide atau gagasan tersebut dapat sampai pada penerimanya (Aisyah Fadila, 2023).
Berdasarkan pandangan tersebut, media sosial dapat dipahami sebagai ruang komunikasi yang memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk mengekspresikan berbagai buah pikiran secara lebih terbuka dalam ruang publik digital.
Namun yang menjadi titik permasalahannya: di tengah euforianya, kebebasan medsos sering tidak disertai rasa tanggung jawab etis.
Hal ini dapat dilihat dari maraknya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan cyberbullying. Fenomena ini dapat menunjukan bahwa Sebagian masyarakat belum memiliki kesadaran yang memadai untuk menjadikan medsos secara tepat sebagai instrumen dalam menyampaikan ide, gagasan dan pandangan secara bertanggung jawab dalam ruang publik digital.
Namun kini, medsos yang pada hakikatnya menjadi sarana edukasi dan komunikasi serta nilai ekonomi, kini justru telah mengalami pergeseran fungsi dan menjadi ruang yang rentan dimanfaatkan sebagai arena penyebaran konflik sosial.
Yang menjadi pertanyaannya: faktor-faktor apa yang menyebabkan problematika ini terjadi, hingga pada akhirnya menimbulkan paradoks dalam kemajuan zaman.
Dalam perspektif filsafat eksistensial, Jean-Paul Sartre menyatakan bahwa kebebasan merupakan keadaan mendasar manusia, namun kebebasan tersebut tidak terlepas dari tanggung jawab moral.
Dari perspektif ini, Sartre menegaskan bahwa kebebasan tanpa batas tidak dipandang sebagai kemampuan untuk bertindak sesuka hati atau bertindak bebas, melainkan kemampuan untuk bertindak secara sadar dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.
Ini berarti bahwa kebebasan bermedsos tidak dipandang sebagai kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan yang disertai tanggung jawab sehingga tidak menimbulkan persoalan yang berpotensi pada gangguan pada ruang digital dan kehidupan bersama.
Secara teoretis, dapat dikatakan bahwa melalui problem medsos, nilai-nilai etis yang seharusnya mendukung edukasi kehidupan kini menjadi terpinggirkan.
Hal ini terjadi karena setiap individu didorongan untuk pemenuhan hasrat untuk viral, mencari sensasi, dan kepentingan pribadi yang sering kali mengabaikan nilai moral.
Sebagai manusia yang bermoral, nilai etis dapat dipandang sebagai dasar dalam pembentukan kehidupan bersama terlebih khusus pada maraknya penyebaran konten di medsos.
Dalam bukunya berjudul “Etika” (2007), Kees Bertens menegaskan bahwa etika merupakan nilai yang menegaskan benar dan salahnya suatu tindakan dalam kehidupan manusia.
Etika dalam bermedia dapat dipandang sebagai kompas moral, karena fungsinya yang sangat esensial dalam membimbing setiap pelaku medsos dalam menentukan tindakan yang salah dan benar, sehingga medsos dapat dipandang dan bertanggung jawab serta memberikan kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat.
Dari realitas ini, berbagai fenomena yang terjadi dalam ruang medsos dapat dinyatakan sebagai penyimpangan terhadap nilai etika, karena tidak ada batasan yang jelas dalam penggunaannya.
Pada akhirnya, kebebasan bermedia tidak dipandang sebagai kebebasan tanpa batas. Melainkan kebebasan yang patut disertai kesadaran moral dan tanggung jawab etis terhadap kehidupan bersama.
Tanpa kesadaran tersebut, media sosial akan terus menjadi ruang konflik dan penyebaran kebencian.
Oleh karen itu, etika bermedia perlu ditegaskan agar kebebasan yang dimiliki setiap pengguna medsos benaar-benar dibatasi dan dapat menjadi sarana dalam membangun kehidupan bersama yang efektif dan bermartabat.*


COMMENTS