Banyak yang tidak tahu bahwa Megawati merupakan tokoh dengan pengalaman sangat lengkap. Sekitar 15 keputusan politiknya yang mengubah Indonesia.
![]() |
| Megawati Soekarnoputri. |
Banyak yang tidak tahu bahwa Megawati merupakan tokoh dengan pengalaman sangat lengkap.
Sejak usia 13 tahun sudah dipersiapkan BK sebagai pemimpin.
Usia 14 tahun tercatat sebagai peserta termuda KTT Gerakan Non Blok I di Beograd.
Megawati pernah menjadi anggota DPR RI, wakil presiden, presiden RI, dan pengalaman panjang sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan.
Dalam periode perlawanan, Megawati mengenal seluruh pelosok Indonesia.
Periode tersebut Megawati melantik sendiri Koordinator kecamatan (Korcam) di seluruh Indonesia.
Inilah proses pembumian seluruh ajaran Bung Karno dalam pengenalannya dengan Indonesia.
Bandingkan dengan tokoh tertentu, yang baru pulang dari LN, belum mengenal Indonesia, langsung mencalonkan sebagai capres.
Indonesia adalah negara besar, sangat kompleks, pengaruh asing sangat kuat.
Melihat Megawati harus dari keputusan politiknya, bukan dari gaya bicara, atau ketrampilan berpolitik citra. Setidaknya terdapat 14 keputusan penting Megawati yang mengubah Indonesia.
1. Pengaruhi Agenda Timtim di Sidang PBB
Saat itu dalam Sidang Umum PBB, Megawati ditugaskan oleh Kharis Suhud untuk meloby Kuba agar mendukung Indonesia untuk tidak memasukkan Timor-Timur dalam agenda Dewan Keamanan PBB. Atas penugasan itu, maka Megawati meminta cerutu dari kedutaan Indonesia di Amerika.
Seluruh staf kedutaan binggung, dan bertanya-tanya apakah Megawati menghisap cerutu. Dengan pandangan aneh seluruh staf kedubes, megawati menemui delegasi Kuba, dan mengacung-acungkan Cerutu, sambil mengatakan: “Saya Megawati, dari Indonesia. Soekarno”.
Delegasi Kuba sangat mengenal dan menghormati Soekarno, maka mereka datang mendekat ke arah Megawati. Delegasi tersebut, sangat kesulitan bahasa Ingris.
Megawati tidak kehilangan akal, sambil tetap memegang dan mencium ceurut tersebut, Megawati menggambarkan ruang sidang di Gedung PBB tersebut. “Saya minta tolong”, sambil menggambar di atas kertas, dan kemudian menuliskan: “Timor-timur, Voting: Yes, No, Abstain”.
Lalu Megawati mengaskan: “Megawati, Soekarno, Indonesia: Abstain”. Percakapan dalam bahasa Ingris, disertai bahasa isyarat dan gambar tersebut, akhirnya membuat delegasi Kuba memahami permintaan Megawati.
Terbukti akhirnya sikap Kuba abstain, dan ini berpengaruh ke negara Amerika Latin lainnya. Timor-timur akhirya tidak dibahas dalam agenda sidang DK-PBB.
Pesan politik: Megawati memahami peran sebagai pengikut. Maka intruksi Kharis Suhud dijalankan dengan sangat baik.
2. Pasca Kasus Kudatuli
Setelah serangan kantor DPP PDI pada tanggal 27 Juli 1996, maka dalam rapat DPP, dibahaslah berbagai kemungkinan, termasuk people power.
Kalkulasi berapa korban yang akan timbul dan lain sebagainya sudah masuk dalam pembahasan. Namun tiba-tiba Megawati mengambil keputusan untuk menempuh jalur hukum.
Seluruh lingkaran pertama Megawati saat itu bertanya-tanya, dan tidak mengerti:
“Seluruh hakim, dan jaksa dikuasai oleh Pak Harto, mengapa Ibu Mega memilih jalur hukum. Kita pasti kalah”, kata mereka.
Disinilah Megawati menunjukkan politik sebagai keyakinan, dan lebih memilih jalan hukum, meski sangat berliku dan melelahkan. Namun proses ini dipastikan akan meminimalkan korban.
“Masak diantara ribuan hakim tidak ada satu yang memiliki hati nurani”, kata Megawati.
“Meskipun kita akan sering dikalahkan, namun sekali ada hakim yang punya hati nurani, dan kemudian memenangkan gugatan kita, maka disitulah kekuatan moral kita untuk meruntuhkan rejim yang otoriter”, tegas Megawati.
Mengapa keputusan seperti itu? Ini juga hasil “pendidikan politik”.
Akhirnya dari 267 gugatan, ada seorang hakim yang namanya Tobing dari Riau, yang memenangkan gugatan Megawati.
Belakangan diketahui, Megawati menjalankan teori asimetris dalam strategi perang menghadapi lawan yang sangat kuat.
3. Delegitimasi Pemilu 1997
Setelah PDI tidak diijinkan ikut pemilu pada tahun 1997, dengan kekuatannya Megawati sebenarnya bisa melawan penzoliman tersebut.
Namun dengan intuisinya yang sangat tajam, Megawati tidak mau mengobarkan semangat perlawanan dengan kekerasan. Megawati lebih memilih membacakan surat, dimana Megawati akan menggunakan haknya untuk tidak memilih?
Sikap ini (tanpa instruksi), ternyata menjadi gerakan politik untuk tidak memilih, yang meruntuhkan legitimasi pemilu 1997. Ini juga hasil “pendidikan politik BK.
4. Kecam Terorisme Global
Ketika berpidato di PBB, pada kunjungan Megawati ke USA setelah serangan teroris 11 September, Megawati diminta berbicara terhadap sikap Indonesia untuk memerangi terorisme.
Pada saat itu banyak ahli politik dan ahli ekonomi yang mengatakan bahwa kunjungan itu merupakan kesempatan emas bagi Megawati untuk mendapatkan mili dolar AS untuk bersama USA memerangi terorisme.
USA memerlukan dukungan Indonesia yang mayoritasnya muslim. Teks Pidato atas lobby USA sudah disiapkan. Tetapi Megawati lebih memilih menyuarakan keyakinan bahwa Indonesia adalah negara berdaulat.
Maka dalam pidato di PBB, hasilnya sangat mengejutkan, dan membuat Amerika kurang senang. Megawati menegaskan bahwa akar persoalan terorisme adalah ketidakadilan masalah Palestina.
Suatu sikap yang tidak mungkin disampaikan oleh SBY. Sikap tegas Megawati tersebut karena Megawati sadar bahwa Palestina adalah satu-satunya bangsa yang belum merdeka dalam pengertian yang seluas-luasnya.
Palestina tercatat sebagai peserta Konferensi Asia Afrika.
Selain itu, Megawati memegang teguh konstitusi “bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa. Karena itulah penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.
5. Solusi Embargo Eropa dan AS
Ketika Indonesia di embargo oleh Eropa dan Amerika, sebagai negara berdaulat Indonesia sudah membeli suku cadang peralatan militer dengan dana sendiri, yakni melalui APBN.
Suku cadang tersebut tertahan ke Korsel.
Menghadapi hal tersebut, dengan tegas Megawati menunjukkan kualitasnya sebagai kepala negara dari negara yang berdaulat. Indonesia pun kemudian mendapatkan peralatan militernya dari Rusia.
Inilah pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif.
6. Akuisisi Blok Cepu
Blok Minyak Cepu tidak mau diberikan ke Exxon. Pertamina lah yang punya hak! Amerika pun berusaha melobby Megawati. Pertemuan di Bali diadakan.
Namun dengan jelas Megawati mengatakan bahwa Blok Cepu milik Pertamina.
Namun ketika SBY terpilih sebagai presiden, langkah pertama dalam politik energinya adalah memberikan Blok Cepu ke Exxon Mobil.
Ini terulang kembali peristiwa tahun 1967. Bulan November 1967, Konferensi di Geneva, para kapitalis yang paling berkuasa di dunia dalam waktu 3 hari merancang pengambilalihan indonesia.
Hal ini sebagai “hadiah terbesar” karena berhasil melengserkan Bung Karno.
Freeport mendapatkan Papua; Siemens mendapatkan proyek pembangkit listrik; Minyak dikuasai oleh Caltex, Stanvac, Total dan lain lain.
Sang raksasa Alcoa mendapatkan bagian terbesar dari bauksit di Indonesia.
Amerika, Jepang dan Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis di Sumatera, Papua, dan Kalimantan Barat.
UU penanaman Modal yang baru: investor bebas pajak selama 5 tahun. Kendali ekonomi di IGGI. Peristiwa yang sama terjadi untuk penggusuran Kolonel Khadafi di Libya.
Apakah pemberian Blok Cepu tersebut sebagai upeti SBY terhadap USA?
7. Tantang Bush di Isu Irak
Ketika Amerika berencana menyerang Irak, beberapa kali, Presiden Amerika saat itu, George W. Bush menelpon Megawati sebagai Presiden dari negara dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia.
Namun upaya tersebut gagal. Megawati dengan tegas mengatakan:
“Mr. Bush, Islam di Irak itu hampir sama dengan Indonesia. Kami tidak akan memberikan dukungan selama aksi itu dilakukan secara sepihak, dan tidak atas nama PBB. Berapa lama Amerika akan menyelesaikan misinya atas Irak?”
Sikap keras Megawati ini juga nampak dalam Organisasi Konferensi Islam.
Raja Fahd dari Arab Saudi sempat mengingatkan Megawati atas ucapannya yang keras tersebut.
Namun dengan tegas Megawati mengatakan:
“Ini adalah hal prinsip. Jika saya tidak ikut menyuarakan, maka orang tidak akan berani bersuara”.
Hal itu terjadi mengingat saat itu Amerika merupakan kekuatan unipolar dunia. Apa yang dilakukan Megawati bukan karena berseberangan dengan Amerika. Tidak.
Megawati sangat menghormati dan mengagumi Amerika.
Namun ktika hal yang sangat fundamental dilanggar, maka Megawati tidak gentar bersikap. Meskipun dengan resiko politik yang sangat besar sekalipun.
8. Tidak Ada Dendam dengan SBY
Bagaimana dengan hubungannya dengan SBY. Apakah Megawati dendam terhadap SBY sehingga dikesankan tidak mau salaman. Atau karena Megawati sakit hati akibat dikalahkan.
Tidak ada persoalan pribadi antara Megawati dan SBY.
Kalau berbicara sakit hati, problem dengan Pak Harto jauh lebih besar, dan menciptakan luka lebih dalam.
Terhadap Pak Harto pun, Megawati tetap menaruh hormat, karena bagaimanapun adalah seorang presiden.
Dengan demikian karena tidak ada persoalan pribadi, maka menurut analisis saya, ada persoalan lain yang lebih mendasar persoalan karakter, persoalan ideologi, dan persoalan tanggung jawab pemimpin.
Harus dilihat bahwa Megawati memahami psikologi. Sejak awal Megawati yakin bahwa pekerjaan rumah bagi SBY adalah bagaimana menjadi pemimpin.
Pemimpin itu berani mengambil keputusan. Pemimpin itu tidak bersembunyi ketika ada masalah, dan kemudian baru muncul ketika berhasil.
Ada beberapa kejadian, uyang pada prinsipnya muncul pertanyaan: mengapa Megawati bersikap seperti itu terhadap SBY.
Pertama, ketika Megawati menjadi presiden, maka melalui amandemen IV, Pemilihan Presiden dilakukan secara langsung.
Atas keputusan TAP MPR tersebut, maka Megawati sebagai mandataris MPR, memerintahkan Menko Polkam untuk mempersiapkan pemilu presiden tersebut akan berjalan secara demokratis.
Saat itu kehidupan perekonomian nasional masih sulit. Maka dalam kondisi anggaran yang ketat, Megawati hanya mengijinkan satu-satunya menteri yang boleh membangun gedung hanya Menko Polkam.
Belakangan kantor yang harusnya dipakai untuk mempersiapkan pemilu negara tersebut, ternyata dipakai untuk kepentingan pribadi; Mempersiapkan sebagai capres.
Kedua, mengapa atas kerusuhan Ambon, Megawati justru menugaskan Sarundayang dan penyelesaian Poso, Megawati menugaskan Jusuf Kala.
Kemana SBY sebagai Menkopolkam saat itu?
Jawabannya jelas, ketika ada masalah, SBY menghindar.
Pernah suatu ketika dalam upaya menciptakan perdamaian di Maluku.
Beberapa hari lamanya Megawati ditemani beberapa Menteri, termasuk SBY, tinggal di Kapal Selam. Kemudian dilakukan inspeksi ke Maluku Utara.
Risiko sangat tinggi karena konflik masih kuat terjadi. Megawati pun kemudian meninjau secara langsung, dan SBY tetap berada di kapal selam.
Ketiga, dalam suatu rapat Kabinet, diambil keputusan bahwa menghadapi aksi separatisme di Aceh, maka rapat memutuskan diambil tindakan militer.
Menko Polkam bertugas memimpin. Intelijen telah memberikan data yang sangat akurat terhadap konsentrasi kekuatan GAM.
Namun beberapa hari, bahkan sekitar lebih dari 1 minggu setelah perintah presiden, ternyata instruksi itu tidak dijalankan.
Sekretaris Militer Presiden, TB Hasanudin, kemudian memberikan surat perintah presiden sesuai keputusan Rapat Kabinet.
Pada saat surat itu diterima, GAM sudah menghilang. Operasi bocor. Ini adalah bukti adanya tindakan desersi.
Keempat, dalam jeda kemanusiaan atas masalah Aceh yang dilaksanakan di Jepang.
SBY sebagai Menkopolkam juga menghilang.
Kelima, Dalam rapat terbatas, hanya beberapa bulan sebelum pemilu. Megawati menanyakan satu persatu, siapa jajaran kabinetnya yang akan mencalonkan sebagai capres.
Ditanyalah Pak Hamzah Haz yang pada saat itu juga menjabat sebagai ketua umum partai.
“Pak Hamzah, mau nyalon tidak”, tanya Megawati.
Jawab pak Hamzah, “Sekiranya Muktamar memutuskan untuk mencalonkan saya, mohon ijinnya Ibu Presiden”. “Yo wis”, kata Megawati.
Menteri lain pun ditanya seperti Yusril yang ketika itu juga sebagai ketua umum partai.
Semua menjawab dengan berani.
Setelah Megawati menanyakan kebeberapa orang menteri lain, beliau ingin ke toilet dan mendelegasikan jalannya rapat ke Hamzah Haz.
Ketika tiba giliran SBY, dan Hamzah Haz menyampaikan pertanyaan yang sama, SBY dengan muka merah menjawab, “Saya tidak akan mencalonkan sebagai Presiden itu kata media”.
Begitu Megawati kembali dari toilet, Hamzah Haz sudah kelar menanyai semua peserta rapat.
Setelah mendapatkan laporan di saat acara makan siang bersama, disitulah Megawati semakin paham bahwa diam-diam SBY punya rencana dan telah mengkonsolidasikan timnya, seperti di kantor Menkopolkam.
Yang disayangkan, SBY tidak berani secara gentle mengatakan didepan Megawati.
Demikian halnya terhadap kebijakan strategis lainnya seperti kebijakan energi, dan politik luar negeri. Nampak ada perbedaan yang sangat fundamental antara megawati dan SBY.
Jadi persoalan antara Megawati dan SBY adalah persolan yang sangat ideologis. Megawati lebih memilih mengambil resiko sebagai pemimpin dari negara berdaulat.
Sebaliknya, SBY lebih kompromis dan menjadi good boy. Megawati dengan keras mengeluarkan Inpres untuk tidak melakukan impor beras, sebaliknya SBY melakukan liberalisasi pertanian, sehingga Indonesia tergantung apda suplai pangan dunia.
Dalam situasi normal, jika Megawati memang menzolimi SBY sebagaimana dicitrakan pada kampanye Pilpres tahun 2004, pertanyaan bodohnya, seharusnya yang pengen ketemu SBY adalah Megawati.
Tetapi mengapa kondisi justru terbalik? Publik juha mencatat, meskipun SBY menjadi capres, Megawati tetap tidak mengganti Pramono Eddy sebagai Ajudan Presiden.
9. Politik Perbatasan
Dalam politik perbatasan, Megawati juga sangat kuat. Pulau Nipah yang merupakan pulau terluar dan berpatasan dengan Singapore, ketika terancam tenggelam karena pengerukan pasir, maka buru-buru Megawati memerintahkan menimbun pulau tersebut.
Setelah Pulau berhasil ditimbun, maka selamatlah wilayah terluar Indonesia tersebut.Bayangkan jika pulau tersebut hilang, maka wilayah Singapore akan semakin luas. Ketika penimbunan sudah selesai, sebagai presiden dari negara berdaulat, megawati sengaja berkunjung ke Singapore.
Kemudian Megawati mengatakan kepada PM Singapore “Yang Mulia, mohon perkenannya, agar saya dapat dijemput oleh Kapal Perang Republik Indonesia karena saya akan mengok pulau Nipah sebagai pulau terluar Indonesia”.
Maka Kapal perang Indonesia ke Singapore dan dengan gagah Megawati naik kapal perang tersebut untuk menujukkan kepada Indonesia bahwa itulah pulau yang menjadi simbol kedaulatan wilayah Indonesia.
Cerita tersebut nampaknya sederhana, namun dengan di jemput Kapal Perang Indonesia di Singapore, Megawati menunjukkan sebagai pemimpin yang berdaulat dan mengatakan pada Singapore, bahwa itu Pulau Terluar Indonesia yang akan dibela untuk menjaga kedaulatan wilayah.
10. Politik pangan
Megawati tercatat sebagai presiden yang paling sering mengunjungi pusat penelitian pengembangan padi di Sukabumi.
Megawati memimpikan Indonesia berdaulat di bidang pangan, dan tidak tergantung impor. Selama menjadi presiden, Megawati mengeluarkan inpres larangan impor.
Bukan berarti tidak boleh impor. Dengan larangan tersebut, kebijakan kedaulatan pangan diletakkan. Tidak seperti sekarang impor pangan mencapai Rp160 triliun per tahun Karena itulah PDI Perjuangan menolak impor. Biarlah petani Indonesia yang menaman pangan untuk rakyat Indonesia.
11. Politik privatisasi
Privatisasi jaman Megawati dilakukan karena Indonesia dalam keadaan krisis.
Sesuai TAP MPR, pemerintah harus menjalankan reformasi ekonomi, dan mengurangi utang. Maka anggaran pun diperketat. Defisit anggaran selalu dibawah 1%.
Pajak yang dikumpulkan selama Megawati berkuasa mengalahkan akumulasi pajak selama lebih dari 32 tahun Orde baru.
Padahal situasi dalam keadaan krisis. Itupun tidak cukup. Megawati mengembangkan politik berdikari, dan hanya utang Rp4 triliun per tahun.
Namun kebijakan ini harus dibayar mahal. Meskipun Megawati melaksanakan privatisasi karena perintah MPR, dan bertujuan mengurangi utang, tetap saja, dampak politiknya sangat besar.
Tetapi itu adalah pilihan dan tanggung jawab serta resiko bagi pemimpin. Yang jelas selama kepemimpinan Megawati, lebih dari 312.000 kasus di BPPN berhasil diselesaikan.
Berbeda dengan jaman SBY. Hutang mencapai sekitar 80 triliun per tahun. Privatisasi tetap jalan terus, bukan untuk membangun keberdikarian di bidang ekonomi.
Namun untuk ekspansi fiskal. Hasilnya APBN melonjak dari Rp372 T pada tahun 2004, menjadi Rp. 1800 triliun pada tahun 2014.
Kemiskinan dan pengangguran tetap bertambah. Hal yang sederhana nampak, misal ketika memimpin, Megawati memilih reformasi birokrasi, maka PNS dibatasi hanya sekitar 3,6 juta.
Ketika SBY memimpin, maka rekrutmen birokrasi menjadi bagian dari strategi politik. Maka PNS membangkak menjadi 4,7 juta. Demikian pula dengan belanja perjalananan dinas. Jaman Megawati hanya Rp3,9 triliun dan jaman SBY menjadi Rp13 triliun per tahun.
12. Diplomasi Selatan
Kalau Bung Karno membuka Masjid di Belahan bumi bagian utara, yakni di St. Petersburg, maka Megawati membangun Masjid di belahan bumi paling selatan yakni di Makam Syech Yusuf di Afrika Selatan.
Ketika mendenggar secara langsung dari Nelson Mandela yang mengangumi sosok Bung Karno sebagai inspirator bagi kemerdekaan Asia-Afrika, dan Syech Yusuf sebagai pejuang dari Makasar yang dibuang ke Afrika Selatan, maka pada saat berkunjung ke Afsel, Megawati mengajukan permohonan ke Pemerintah Afrika Selatan agar Syech Yusuf ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Akhirnya Pemerintah Afsel memberikan penghargaan tertinggi kepada Bung Karno, dan Syech Yusuf sebagai Pahlawan Nasional Afsel. Pada saat Megawati berkunjung ke Makam Syech Yusuf, masyarakat meminta Megawati untuk membangun Masjid.
Karena situasi perekonomian sedang krisis, maka Masjid dibangun dengan gotong royong dan dipimpin secara langsung oleh Megawati. Terwujudlah koneksitas ideologis. Masjid di belahan bumi paling utara dan selatan memiliki sentuhan ideologis antara Soekarno dan Megawati.
13. Reformasi Polri
Untuk memperbaiki wajah kemanusiaan Polri, Megawati memaksa Kapolri saat itu, Da’i Bachtiar, untuk menerima perempuan di Akademi Kepolisian. Demikian halnya diPariwisata, Megawati membentuk polisi khusus untuk pariwisata.
14. Politik kebudayaan
Dalam perspektif kebudayaan, banyak hal yang sudah dilakukan Megawati.
Perhatian yang begitu besar terhadap kesehatan Ibu hamil, pendidikan anak usia dini, penyelamatan Museum seperti pengamanan di Museum Nasional, dll.
Gaya Hidup Sederhana
Meskipun lebih dari 22 tahun Megawati sebagai anak presiden, dan tinggal di istana negara, namun ketika Bung Karno dilengserkan, tidak ada warisan dari Bung Karno.
“Bapak saya tidak tahu gajinya berapa, dan apakah punya pensiun, dan ketika saya tanya, ternyata juga tidak punya uang di bank”, kata Megawati.
Maka ketika perintah untuk meninggalkan istana diberikan, Megawati sesuai perintah Bung Karno, hanya diijinkan membawa barang-barang pemberian Bung Karno.
Lukisan Bung Karno pun harus ditinggal di istana. Maka jadilah Megawati dari anak presiden, menjadi anak rakyat. Megawati pernah naik semua kendaraan umum.
Suatu hari, Mas Guntur meminta Megawati, yang saat itu tinggal di Madiun, untuk secepatnya ke Jakarta. Karena tiket Kereta Api habis, maka larilah Megawati ke Solo, berharap dapat tiket KA di Solo.
Kebetulan ada orang baik yang memberikan tumpangan mobil. Sampai di Solo, ternyata seluruh tiket KA habis, yang ada tinggal kereta barang, maka naiklah Megawati ke kereta barang.
Situasi kereta barang sangat tidak enak, praktis Megawati tidak bisa menggerakkan badannya. Bahkan ketika kakinya mau digerakkan sekalipun, ada kepala orang dibawahnya.
Megawati merenung, melihat kondisi rakyat yang seperti itu, tetapi Megawati juga merasakan, inilah kaum Marhaen yang selama ini diperjuangkan oleh Bung Karno. Itulah rakyat Indonesia.
Maka dari Anak Presiden, menjadi anak biasa, menjadi rakyat biasa, tanpa persiapan adanya dana pensiun atau warisan yang diberikan Bung Karno, Megawati pun menikmati ketika harus menjadi rakyat biasa. Seluruh angkutan umum pernah dicoba oleh Megawati.
Yang belum adalah oplet.
Maka ketika Prananda Prabowo mengkhitankan anak laki-lakinya dan pada saat kampanye Jokowi masuk putaran terakhir, Megawati meminta disediakan opletnya Si Doel, Anak Betawi.
Maka lengkaplah Megawati mencoba seluruh angkutan umum, angkutan rakyat. Sayang sekali, rakyat masih terus saja menjadi korban akibat buruknya angkutan publik yang nyaman, dan harga terjangkau.
Ketika orang bertanya kepada Megawati, mengapa berbagai cerita di atas tidak diceritakan ke publik? Megawati hanya tersenyum, dan kemudian menceritakan kisah lain yang sangat menarik.
“Saat saya tahu bahwa Bapak dilengserkan, maka sebagai anak muda saat itu, wajar donk jika saya menanyakan kepada Bapak saya, mengapa Bapak tidak melawan? Bukankah Angkatan Udara dan Marinir serta rakyat masih setia pada Bapak?”.
Bukannya menjawab pertanyaan saya, Bung Karno malah berdiri, dan dengan sorot matanya yang sangat tajam, Bapak mengatakan dengan keras:
“Hai anak muda, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Sebagai orang yang mendirikan republik ini, tidak mungkin saya memecah belah republik yang telah saya dirikan”.
Dari situlah Megawati kemudian semakin memahami bahwa patriotisme dan rasa cinta pada bangsa ini harus diletakkan di atas segalanya.
Maka meskipun banyak yang mengkhianati Megawati, namun Mega tetap pada keyakinannya, bahwa politik adalah keyakinan.
Kebenaran akhirnya terbukti dalam politik. Keyakinan politik inilah yang ternyata membuat Megawati terus berada pada jalan yang benar.
Termasuk pada keyakinannya untuk tidak berada di pemerintahan.
Bagi Megawati, untuk menyelesaikan persoalan bangsa, akibat selama 32 tahun dijauhkan dari nation & character building, maka disana tidak ada jalan pintas.
Karena itulah diperlukan kesabaran revolusioner dari seorang pemimpin.
Catatan: Tulisan ini disadur dari sebuah catatan seseorang dengan perubahan seperlunya.
.jpg)
COMMENTS